Cadangan minyak strategis menjadi instrumen penting bagi banyak negara dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi dan energi global.

Simpanan ini berfungsi sebagai jaring pengaman saat pasokan minyak dunia terganggu akibat konflik, embargo, atau bencana alam.

>>> 5 HP Midrange Kamera Terbaik 2026, Hasil Foto Setara Flagship dan Banyak Dicari

Berdasarkan data terbaru dari U. S.

Energy Information Administration (EIA), sejumlah negara tercatat memiliki simpanan minyak mentah dalam jumlah masif. Langkah ini diambil untuk memastikan aktivitas domestik tetap berjalan meski pasar energi dunia bergejolak.

Satu hal yang mencuri perhatian adalah posisi China yang memimpin jauh di atas negara-negara besar lainnya.

China tercatat memiliki cadangan minyak strategis mencapai hampir 1,4 miliar barel minyak mentah.

Dominasi China dalam Cadangan Minyak Global

China menempati urutan pertama di dunia dengan estimasi stok minyak strategis mencapai 1.397 juta barel.

Jumlah tersebut menempatkan China sebagai negara dengan kesiapan energi paling tangguh dalam menghadapi gangguan distribusi energi internasional.

Besarnya stok minyak China bahkan jauh mengungguli akumulasi cadangan milik Amerika Serikat, Jepang, serta negara-negara Eropa OECD.

Keunggulan ini juga mencakup perbandingan dengan stok produsen besar seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Iran.

Strategi penguatan stok ini dilakukan karena China memiliki ketergantungan tinggi terhadap pasokan minyak impor.

Ancaman gangguan di jalur perdagangan vital, seperti Selat Hormuz, menjadi alasan kuat untuk terus memperbesar kapasitas penyimpanan.

Sepanjang tahun 2025, China terus menambah inventaris minyak secara konsisten setiap harinya.

Estimasi menunjukkan tambahan stok sekitar 0,5 hingga 1,1 juta barel per hari yang dialokasikan ke berbagai fasilitas penyimpanan strategis.

Langkah ini memberikan fleksibilitas bagi ekonomi China saat harga minyak dunia melonjak atau terjadi krisis geopolitik.