Dosen Hubungan Internasional UI, Asra Virgianita, menilai bahwa pertemuan ini memiliki makna simbolis yang mendalam.

China ingin menunjukkan posisinya sebagai mitra strategis yang sejajar dengan AS di kancah internasional.

Gejolak di Selat Hormuz dan Keamanan Energi

Isu keamanan di Selat Hormuz menjadi agenda mendesak yang dibahas secara tertutup oleh Trump dan Xi.

Jalur laut ini sangat vital karena menjadi urat nadi pasokan energi dunia yang saat ini terancam blokade.

AS sangat berkepentingan menjaga jalur tersebut guna meredam inflasi bahan bakar yang membebani ekonomi domestik mereka.

Sementara itu, China bergantung sepenuhnya pada selat ini karena separuh kebutuhan minyak mentah mereka melewati jalur tersebut.

>>> Emilia Clarke Buka Suara soal Rumor Gaji Fantastis di Game of Thrones

Trump berharap Xi dapat menggunakan pengaruhnya terhadap Iran untuk meredakan ketegangan di kawasan Teluk Persia.

Sebagai pembeli minyak terbesar Iran, China memiliki posisi tawar unik yang tidak dimiliki oleh negara-negara Barat lainnya.

Meski begitu, Xi diperkirakan tidak akan memberikan bantuan cuma-cuma terkait stabilitas energi tersebut. Beijing kemungkinan besar menuntut kompensasi besar dalam hal regulasi kecerdasan buatan serta pelonggaran investasi teknologi.

Kesepakatan untuk menjaga Selat Hormuz tetap terbuka lebih didorong oleh rasa takut akan keruntuhan ekonomi global.

Kerja sama ini muncul karena ketergantungan ekonomi antarnegara yang sangat kuat, bukan didasari oleh solidaritas murni.

Peluang dan Posisi Strategis Indonesia

Di tengah persaingan dua negara adidaya, Indonesia muncul sebagai pemain kunci berkat dominasi dalam sektor energi hijau.

Keberhasilan menguasai lebih dari 60% produksi nikel global pada 2024-2025 memberikan Jakarta posisi tawar yang sangat kuat.