Selisih produksi yang mencapai lebih dari 190 ribu ton menjadi bukti efektivitas pengelolaan lahan pertanian.

Wilayah Penopang Pangan Utama

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Sumedang, Tono Suhartono, mengonfirmasi bahwa surplus ini merupakan modal vital.

Menurutnya, produksi yang melampaui kebutuhan masyarakat lokal akan dialokasikan untuk memperkuat pasokan pangan di Jawa Barat.

Keberhasilan ini didukung oleh beberapa kecamatan yang menjadi sentra produksi padi terbesar. Daerah-daerah ini memiliki kontribusi paling menonjol dalam menyumbang angka produksi gabah nasional.

  • Buahdua: 43,19 ribu ton
  • Conggeang: 32,18 ribu ton
  • Ujungjaya: 30,25 ribu ton
  • Tanjungkerta: 24,68 ribu ton
  • Sumedang Selatan: 23,9 ribu ton

Wilayah-wilayah tersebut menjadi tulang punggung bagi kedaulatan pangan Sumedang berkat kombinasi lahan luas dan sistem pengairan yang baik.

Keahlian bertani yang diwariskan secara turun-temurun juga menjadi faktor penentu stabilitas hasil panen.

Meskipun saat ini berada dalam kondisi surplus, pemerintah tidak ingin lengah terhadap dinamika cuaca yang sulit ditebak.

>>> Ekspor Sawit hingga Batu Bara via PT DSI Jadi Pilihan Utama di 2026

Ke depannya, peningkatan produktivitas harus tetap dilakukan secara berkelanjutan untuk menjawab kebutuhan pangan yang terus bertumbuh.