Presiden Prabowo Subianto meresmikan lima bendungan yang tersebar di empat provinsi secara serentak pada Jumat (10/7).

Kelima bendungan itu adalah Bendungan Meninting di Nusa Tenggara Barat, Bendungan Rukoh dan Keureuto di Aceh, Bendungan Jlantah di Jawa Tengah, serta Bendungan Sidan di Bali.

>>> Asteroid Apophis Melintas Dekat Bumi April 2029, Bisa Dilihat 7,6 Miliar Orang

Dalam sambutannya di Bendungan Meninting, Lombok Barat, Prabowo menyebut pembangunan bendungan tersebut merupakan investasi negara senilai Rp9,79 triliun.

Ia mengatakan, dengan dukungan teknologi pertanian dan benih unggul, lima bendungan ini berpotensi menghasilkan hingga 1 juta ton beras per tahun.

Prabowo membandingkan nilai investasi bendungan dengan potensi penghematan devisa dari program mandatori biodiesel B50 yang baru diluncurkan.

Menurutnya, penghentian impor solar melalui B50 diperkirakan menghemat sekitar Rp170 triliun per tahun, sehingga memberikan ruang fiskal lebih besar untuk infrastruktur.

"Bayangkan berapa puluh bendungan yang bisa kita bangun tiap tahun," ujar Prabowo.

Ia juga mengingatkan bahwa pembangunan bendungan merupakan proses jangka panjang yang melibatkan banyak pemerintahan, dan presiden pendahulunya turut berjasa.

>>> Putusan Praperadilan Kedua Roy Suryo Dijadwalkan 20 Juli 2026

Manfaat Bendungan bagi Pertanian dan Energi

Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo melaporkan, lima bendungan didukung jaringan irigasi sepanjang sekitar 280 kilometer yang melayani sekitar 40 ribu hektare lahan pertanian.

Dengan irigasi tersebut, bendungan diperkirakan mampu menghasilkan sekitar 720 ribu ton padi per tahun.

Selain irigasi, kelima bendungan memiliki total kapasitas tampung sekitar 371 juta meter kubik air, memasok air baku 3,6 meter kubik per detik, dan mengurangi potensi banjir di sekitar 932 hektare wilayah.

Di sektor energi, bendungan berpotensi menghasilkan listrik tenaga air sebesar 9,6 MW dan listrik tenaga surya terapung hingga 346 MW.

Khusus Bendungan Meninting, Dody menyebut telah meningkatkan irigasi di sekitar 1.600 hektare sawah di Lombok Barat.

Lahan yang sebelumnya hanya panen sekali setahun kini bisa tiga kali musim tanam dengan produktivitas sekitar 6,3 ton per hektare.

>>> Indonesia Peringkat Ketiga Dunia Kasus Kusta, Stigma Masih Menghantui

Peresmian ini merupakan bagian dari upaya pemerintah memperkuat ketahanan air nasional, mendukung swasembada pangan, penyediaan air baku, pengendalian banjir, dan pengembangan energi bersih.