Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) diperkirakan kembali melanda Indonesia pada pertengahan tahun 2026. Sektor industri manufaktur menjadi yang paling rentan terdampak.

Tekanan ekonomi global yang belum stabil menjadi pemicu utama. Nilai tukar rupiah yang terus melemah dan kenaikan biaya produksi memperburuk kondisi.

>>> Notes from the Last Row: Sinopsis Drama Thriller Netflix 2026

Penyebab Utama Tekanan pada Industri Nasional

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal, mengungkapkan bahwa dinamika geopolitik global berdampak nyata pada industri padat karya.

Melemahnya rupiah terhadap dolar AS menjadi beban terberat.

Kondisi ini secara otomatis menaikkan biaya produksi, terutama bagi industri yang mengandalkan bahan baku impor. Industri berorientasi ekspor juga tertekan akibat ketidakpastian ekonomi internasional.

Beberapa faktor penyebab kenaikan beban operasional menurut KSPI meliputi:

  • Melemahnya nilai tukar rupiah yang membuat harga bahan baku impor jauh lebih mahal.
  • Kenaikan harga BBM untuk industri nonsubsidi yang membebani logistik.
  • Penurunan permintaan pasar luar negeri akibat ekonomi global lesu.
  • Membengkaknya biaya operasional harian yang tidak sebanding dengan pendapatan.

Said Iqbal menegaskan bahwa jatuhnya nilai rupiah memaksa pengusaha merogoh kocek lebih dalam. Hal ini disampaikan dalam konferensi pers daring pada Minggu, 31 Mei 2026.

Beban biaya yang membengkak memaksa sejumlah perusahaan melakukan efisiensi. Beberapa memilih mengurangi karyawan atau menghentikan operasional pabrik.

Sektor-Sektor yang Paling Terancam PHK

Salah satu kasus yang menjadi perhatian adalah penutupan pabrik elektronik PT Xacti Indonesia di Depok. Keputusan ini berdampak pada hilangnya pekerjaan bagi sekitar 350 buruh.

Said Iqbal menilai insiden tersebut mencerminkan sulitnya industri bertahan di tengah tingginya biaya impor. Selain elektronik, industri otomotif juga mulai menunjukkan tanda kelesuan.