Awalnya, Hasan ingin mengatasi masalah gulma dan ganggang panjang yang menutupi permukaan air setu.

Lewat dana pemerintah pusat dan bantuan komunitas, masalah tanaman air tersebut memang berhasil diatasi dengan sangat baik.

Sayangnya, keberhasilan pembersihan alga ini berbanding terbalik dengan kualitas pembangunan infrastruktur fisik yang dilakukan.

Hasan menilai proyek tersebut terlalu fokus pada estetika permukaan saja seperti pemasangan pagar dan paving.

Keseimbangan ekosistem dan sistem drainase yang krusial justru tampak terabaikan dalam pengerjaan proyek tersebut.

Akibatnya, fungsi utama setu sebagai penampung air tidak berjalan optimal saat curah hujan tinggi melanda kawasan tersebut.

Masalah Saluran Air dan Risiko Banjir

Hasan mengungkapkan keheranannya terhadap alokasi anggaran yang mencapai puluhan miliar tersebut.

Menurut pengamatannya di lapangan, ia merasa pekerjaan yang dilakukan mungkin hanya menghabiskan dana sekitar Rp 7 miliar saja.

Satu hal yang paling disayangkan adalah pembangunan saluran air menuju Perumahan Maharaja yang tidak tuntas.

Pengerjaan drainase tersebut terhenti hanya pada jarak 100 meter, sehingga alirannya menjadi buntu dan tidak tersambung.

"Dulu revitalisasi itu sebenarnya alirannya sampai ke sana, ke Perumahan Maharaja. Cuma sampai sini doang sekitar 100 meter, sudah buntu.

Tidak dikerjakan lagi ke sananya," ujar Hasan saat ditemui di lokasi.

Selain tidak tuntas, kedalaman saluran air yang baru dibangun juga dianggap sangat tidak memadai.

>>> Ancol Gratiskan Tiket Masuk Sore Hari Sambut HUT Jakarta 2026

Hasan menyebutkan bahwa di beberapa titik, kedalaman saluran tersebut bahkan kurang dari setengah meter saja.

Kondisi ini menyebabkan air mudah meluap ketika hujan deras turun dan langsung membanjiri permukiman, khususnya di wilayah RT 5.