>>> Rupiah Hari Ini Melemah ke Rp17.800, Terendah Sepanjang Sejarah

Masalah Drainase dan Trotoar Terabaikan

Susi, pedagang celana pendek pria, menyuarakan keresahan yang sama. Masalah ini bermula sejak pembongkaran trotoar yang tidak kunjung diselesaikan.

Sejak proyek trotoar terbengkalai, air hujan tidak lagi mengalir ke selokan. Air malah meluber ke dalam pasar, membuat pedagang selalu siaga.

Mamat, tukang parkir di area depan, memperkuat kesaksian para pedagang. Air kiriman dari wilayah Seskoal tertahan tepat di depan pintu masuk pasar.

Got di pinggir jalan tertutup tanah akibat material trotoar yang dibiarkan berantakan selama dua tahun. Kapasitas saluran air menurun drastis dan tidak mampu menampung debit air hujan deras.

Respons Pemerintah yang Lamban

Keluhan pedagang sudah disampaikan kepada pihak berwenang di tingkat kecamatan. Namun, hingga saat ini belum ada tindakan nyata untuk memperbaiki drainase.

Mamat menceritakan bahwa pihak kecamatan memberikan jawaban berbelit-belit. Janji untuk merapatkan masalah trotoar sudah terdengar sejak lama tanpa realisasi.

"Warga sempat bertanya kapan trotoar dirapikan karena banjir makin parah, tapi jawabannya hanya akan dirapatkan dulu. Masa sudah dua tahun rapatnya tidak selesai-selesai," ujar Mamat kecewa.

Kondisi trotoar di depan Pasar Cipulir memang terlihat sangat tidak teratur. Pembatas jalan berserakan dan tumpukan tanah menutupi lubang-lubang drainase utama.

>>> Dolar Melejit, Ini 5 HP Paling Worth It 2026 yang Banyak Dicari Mulai Rp1 Jutaan

Lingkungan yang kumuh dan tidak terawat memperparah citra Pasar Cipulir sebagai pusat perbelanjaan grosir. Jika tidak segera ditangani, pedagang khawatir pasar akan semakin ditinggalkan pembeli.