Pedagang Pasar Cipulir di Jakarta Selatan semakin cemas menghadapi musim hujan 2026. Selain penurunan jumlah pembeli, mereka dihantui banjir yang kerap merendam lantai dasar pasar.

Banjir tidak hanya merusak fasilitas, tetapi juga membuat pendapatan pedagang merosot tajam. Operasional toko sering terganggu saat genangan air masuk.

>>> Harga Emas Dunia Melesat Jelang Negosiasi AS-Iran, Rekor Terbaru 2026 yang Mengejutkan

Penyebab Banjir di Pasar Cipulir

Banyak pihak menduga luapan air berasal dari Kali Pesanggrahan di samping pasar. Namun, pedagang mengungkapkan fakta berbeda mengenai sumber air yang merendam ruko mereka.

Saluran air di pinggir jalan raya memiliki sistem drainase yang sangat buruk. Luapan air ternyata berasal dari selokan depan pasar, bukan dari Kali Pesanggrahan.

Tumpukan tanah sisa pembongkaran trotoar menyumbat aliran air ke saluran utama. Aliran air dari arah Seskoal menumpuk di depan pasar karena tidak tertampung.

Buruknya infrastruktur jalan dan saluran pembuangan menjadi faktor utama. Kondisi trotoar yang terbengkalai selama bertahun-tahun tanpa perbaikan memperparah situasi.

Keluhan dan Kerugian Pedagang

Cece, pedagang pakaian remaja di lantai dasar, menuturkan intensitas banjir semakin parah dalam setahun terakhir. Air kini lebih cepat masuk ke toko meski hujan tidak terlalu ekstrem.

Kekhawatiran Cece memuncak saat langit mulai gelap. Ia dan karyawannya harus sigap menyelamatkan barang dagangan ke tempat yang lebih tinggi.

Dampak ekonomi dari banjir rutin sangat terasa. Pendapatan penjualan merosot hingga 30% dari biasanya.

Stok pakaian yang tidak sempat dievakuasi rusak terendam air. Aktivitas jual beli terhenti total saat genangan air masuk.

Pedagang kewalahan harus memindahkan barang setiap hujan turun. Banjir menjadi beban ganda di tengah kesulitan mencari pembeli.