>>> Saham GOTO Tertahan di Level Gocap, MSCI Bekukan Data Teknis

Amirah menyebutkan bahwa kenaikan harga pangan telah memangkas omzetnya hingga 40 persen dari situasi normal.

Kini, dengan adanya libur panjang dan kebijakan WFH bagi aparatur sipil negara, pendapatannya kembali terkoreksi turun sekitar 10 persen.

Ia mengeluhkan harga minyak goreng dan cabai yang terus melonjak di tengah minimnya pemasukan.

Akumulasi tekanan ekonomi dari harga bahan baku dan berkurangnya mobilitas warga sangat memukul usaha mikro. Pedagang harus memutar otak agar bisnis tetap berjalan meski keuntungan kian menipis.

Ojek Online Menjadi Penyelamat

Meskipun mayoritas pedagang mengeluh, ada pula yang masih mampu bertahan berkat lokasi yang strategis.

Kusuma, seorang pedagang warteg yang lokasinya berdekatan dengan jalan raya, mengaku masih mendapatkan aliran pembeli.

Ia mengungkapkan bahwa meskipun jumlah pelanggan yang makan di tempat berkurang, pesanan melalui layanan ojek online sangat membantu.

Keberadaan pengemudi daring ini menjadi penyambung napas bagi usahanya di tengah lesunya daya beli.

Secara keseluruhan, Kusuma tetap mengakui adanya penurunan omzet sekitar 30 persen akibat mahalnya harga bahan masakan.

>>> Bocoran Samsung Galaxy A27: Snapdragon 6 Gen 3, Kamera Ultrawide Turun ke 5 MP

Fenomena ini menjadi sinyal bahwa sektor usaha kecil sedang menghadapi tantangan serius dari berbagai sisi ekonomi.