Sejumlah pedagang warteg di kawasan Senen, Jakarta Pusat, mulai merasakan dampak negatif dari banyaknya hari libur nasional.

Fenomena libur panjang yang terjadi belakangan ini justru membuat pendapatan mereka merosot tajam akibat sepinya pembeli.

>>> Harga Minyak Dunia Anjlok, Brent Catat Penurunan Terbesar Sejak 2026

Berdasarkan pantauan di lapangan, beberapa gerai warteg di area tersebut tampak lengang dan hanya melayani sedikit pesanan.

Situasi ini sangat kontras dibandingkan hari kerja biasa saat kawasan Senen dipenuhi oleh aktivitas masyarakat.

Dampak Libur Panjang terhadap Omzet Warteg

Keluhan utama datang dari para pedagang yang mengandalkan pelanggan tetap dari kalangan pekerja kantoran dan mahasiswa.

Libur panjang Idul Adha 1447 H yang berlangsung sejak pertengahan pekan hingga awal pekan depan menjadi penyebab utamanya.

Amirah, salah satu pemilik warteg di Senen, mengungkapkan bahwa banyak pelanggannya yang mengambil cuti tambahan di hari terjepit.

Selain itu, para mahasiswa yang biasanya menjadi konsumen setia juga memilih untuk pulang ke kampung halaman.

Faktor penyebab penurunan jumlah pembeli di warteg meliputi: banyak pekerja kantoran yang mengambil cuti tambahan pada hari kejepit nasional, mahasiswa di sekitar kawasan Senen yang memilih pulang kampung saat libur panjang, penerapan kebijakan bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH) bagi para ASN, serta kenaikan harga bahan baku pangan yang membuat daya beli masyarakat secara umum menurun.

Kondisi ini diperparah dengan harga kebutuhan pokok yang belum stabil, sehingga beban operasional pedagang semakin berat. Penurunan jumlah konsumen membuat stok lauk-pauk seringkali tersisa banyak hingga sore hari.

Penurunan Omzet yang Signifikan

Penurunan pendapatan yang dialami para pedagang warteg ternyata sudah terjadi bahkan sebelum masa libur panjang dimulai.