Cara Baru Ubah Rel Kereta Jadi Mesin Penerimaan Negara 2026, Resmi dan Aman
Selama ini, infrastruktur perkeretaapian sering dianggap sebagai beban keuangan negara.
Pemerintah terus mengucurkan anggaran besar setiap tahun untuk membangun dan merawat rel, namun pendapatan yang masuk belum sebanding.
>>> Insentif Kendaraan Listrik Resmi Ditunda, Batal Cair Bulan Depan
Potensi ekonomi dari jaringan rel kereta sebenarnya jauh lebih tinggi daripada yang dimanfaatkan saat ini. Paradigma lama yang menganggap rel hanya sebagai pelayanan publik perlu ditinjau ulang.
Defisit Pengelolaan Rel
Proyek pembangunan dan pemeliharaan rel sebagian besar dibiayai melalui utang negara dan surat berharga negara (SBN). Wajar jika negara berharap infrastruktur ini memberikan kontribusi balik bagi stabilitas fiskal.
Saat ini, pendapatan negara hanya berasal dari track access charge (TAC), yaitu biaya yang dipungut dari operator kereta yang menggunakan rel milik pemerintah.
Di sisi pengeluaran, negara menanggung biaya infrastructure maintenance and operation (IMO) dan public service obligation (PSO).
Pada tahun 2024, pemerintah mengalokasikan anggaran IMO sebesar Rp2,687 triliun dan subsidi PSO sebesar Rp4,596 triliun.
Sementara target penerimaan TAC dipatok Rp3,052 triliun, namun realisasinya sering di bawah target.
Selisih fiskal yang lebar ini mendorong pemerintah mencari strategi baru. Dua pilihan utama adalah meningkatkan pendapatan TAC dan melakukan efisiensi belanja IMO serta PSO.
Menghidupkan Jalur Sepi
Masalah utama adalah pemanfaatan jaringan rel yang belum maksimal.
Penggunaan jalur masih didominasi angkutan penumpang jarak jauh dan komuter perkotaan, sementara banyak jalur antarkota memiliki frekuensi rendah.
Contohnya, di lintas Cirebon-Cikampek, banyak stasiun hanya berfungsi sebagai tempat persilangan tanpa kegiatan ekonomi. Kondisi serupa terjadi di Semarang-Bojonegoro dan Solo-Madiun.
Untuk mendongkrak pendapatan TAC, pemerintah perlu menghidupkan jalur sepi dengan mengoperasikan diesel multiple unit (DMU) atau kereta diesel rangkaian pendek.
Update Terbaru
Indonesia Resmi Punya Radar GCI Pertama, Jangkauan Deteksi Capai 515 Kilometer
Jumat / 17-07-2026, 23:42 WIB
Prabowo Bocorkan Indonesia Segera Luncurkan Kendaraan Listrik Nasional
Jumat / 17-07-2026, 23:42 WIB
Indonesia Terima Enam Jet Latih T-50i Tambahan dari Korea Selatan
Jumat / 17-07-2026, 23:38 WIB
Indonesia Jadi Pendiri WAICO, Target Manfaat Ekonomi AI US$400 Miliar
Jumat / 17-07-2026, 23:38 WIB
Australia Pimpin Dunia dalam Tenaga Surya per Rumah Tangga, Bukan karena Sinar Matahari
Jumat / 17-07-2026, 23:38 WIB
Rosetta Miller-Perry, Tokoh Pers dan Aktivis HAM, Meninggal di Usia 91
Jumat / 17-07-2026, 23:35 WIB
Kebakaran Semak di Dekat Campo Ancam Bangunan, Evakuasi Diperintahkan
Jumat / 17-07-2026, 23:35 WIB
Adam Sandler Tanya Polisi Nantucket Tempat Main Basket
Jumat / 17-07-2026, 23:35 WIB
Keamanan 'TODAY' Show Ditingkatkan Usai Insiden Penyusup
Jumat / 17-07-2026, 23:35 WIB
Milania Giudice Tertawa di Mobil Polisi Usai Ditangkap karena Penganiayaan
Jumat / 17-07-2026, 23:35 WIB
Kakak GloRilla Ingin Berdamai dengan Ibu, Bukan dengan Rapper
Jumat / 17-07-2026, 23:33 WIB
Gempa Magnitudo 7,4 Guncang Meksiko, Picu Peringatan Tsunami
Jumat / 17-07-2026, 23:33 WIB
Igor Tolic Legowo Lepas Frans Putros dari Persib Bandung
Jumat / 17-07-2026, 23:33 WIB
Final Piala Dunia 2026 Terancam Kabut Asap, Argentina vs Spanyol dalam Ancaman Kebakaran Hutan
Jumat / 17-07-2026, 23:28 WIB







