Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus melemah. Pada perdagangan pertama pasca-libur Iduladha, 29 Mei 2026, rupiah dibuka di level Rp17.800 per dolar AS.

Angka itu menunjukkan depresiasi 0,14 persen dibanding penutupan sebelumnya. Sementara indeks dolar AS (DXY) bergerak stabil di posisi 98,974.

>>> 5 Alasan Produk Sustainability Banyak Dicari Konsumen di Tahun 2026

Analisis Pelemahan Rupiah

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai pelemahan rupiah sudah masuk fase overshooting. Penurunan nilai tukar dinilai melampaui fundamental ekonomi jangka panjang Indonesia.

Menurut Fakhrul, tekanan terhadap rupiah dipicu beberapa faktor. Pertama, ketidakjelasan proses penyesuaian ekonomi domestik terhadap perubahan global.

Kedua, kurangnya diversifikasi beban tekanan ekonomi yang bertumpu pada nilai tukar. Ketiga, upaya menjaga stabilitas sosial melalui penahanan harga energi justru memindahkan beban ke kurs.

Keempat, respons pasar terhadap kredibilitas kebijakan dalam menghadapi perubahan global yang cepat. Rupiah kini berfungsi sebagai shock absorber utama perekonomian nasional.

Dampak pada Sektor Riil

Pelemahan rupiah mulai menimbulkan kekhawatiran serius bagi pelaku usaha. Pengusaha menghadapi tekanan ganda: peningkatan biaya operasional dan kenaikan beban pembiayaan.

>>> Banjir Diskon Transmart Full Day Sale 2026, Cek Daftar Harga Promo Terbaru Hari Ini

Biaya impor bahan baku, mesin, dan logistik ikut terkerek. Di sisi lain, suku bunga tinggi membuat biaya pinjaman semakin membebani neraca keuangan perusahaan.

Sektor yang paling terdampak antara lain industri manufaktur yang bergantung pada bahan baku impor, sektor properti dan konstruksi dengan utang tinggi, bisnis retail dengan margin tipis, serta usaha dengan rasio utang besar.

Jika situasi berlangsung lama, pengusaha dikhawatirkan mengambil langkah defensif. Penundaan ekspansi, pemangkasan investasi, hingga pengurangan perekrutan tenaga kerja baru bisa terjadi.

Strategi Menghadapi Gejolak

Pelaku usaha disarankan fokus pada ketahanan operasional. Menjaga likuiditas dan efisiensi menjadi kunci utama dibandingkan ekspansi besar dalam jangka pendek.

>>> DJP Terima 13,45 Juta SPT Tahunan, Relaksasi WP Badan Masih Berlaku

Meski angka Rp17.800 mengkhawatirkan, analis menekankan situasi ini berbeda dengan krisis moneter masa lalu. Ketahanan ekonomi Indonesia dinilai masih memiliki ruang penyesuaian meski tantangan berat.