"Tantangan membangun Baker's Gram itu seperti mulai dari nol lagi," katanya.

Modal utamanya adalah jejaring bisnis dan kolega lama. Respons pasar melonjak saat Natal dan tahun baru, dengan pesanan mengalir deras.

"Waktu awal mulai, kita sampai produksi 18 jam sehari saat Natal. Istirahat cuma enam jam," ujarnya.

Pasar Baker's Gram meluas hingga Surabaya. Ratna menerapkan standardisasi pengiriman menggunakan layanan kilat agar kualitas kue terjaga.

Menjaga Kualitas

Konsistensi rasa dan tekstur adalah hukum utama. Jumlah kue per oven diatur ketat, 45 kue dengan formasi 5 x 9, agar distribusi panas merata.

"Jumlah ideal tetap 45 agar kualitas tetap terjaga," kata Ratna.

>>> 4 HP dengan Snapdragon 8 Gen 5: Vivo X300 FE hingga Realme Neo 8

Modal kafe dibangun bertahap dari akumulasi keuntungan. "Modalnya bertahap banget.

Yang penting jadi dulu. Kalau ada uang ya lanjut, kalau belum ada ya dibiarkan dulu," ujarnya.

Kini Baker's Gram bertransformasi menjadi kafe modern dengan menu beragam: japanese square cake, pastry isi ayam dan sapi, kopi modern, hingga menu sarapan dan hidangan utama.

Ratna mendirikan PT Genta Tata Boga pada akhir 2024. Legalitas usaha kini lengkap dengan NIB, sertifikasi halal, dan izin edar BPOM.

Sejak 2024, ia bergabung sebagai UMKM binaan Rumah BUMN BRI Jakarta. Melalui program ini, ia mengikuti pelatihan pemasaran digital, e-commerce, dan sertifikasi halal.

"Saya dikenalkan ke BRI oleh teman saat ikut pelatihan di Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Provinsi DKI Jakarta," tuturnya.

Ratna menyadari pentingnya digitalisasi pascapandemi. Ia terus membenahi media sosial dan manajemen internal untuk menjaga kualitas produk.