Aroma kopi segar bercampur keharuman kue langsung menyambut pengunjung Baker's Gram di Gunung Sahari, Jakarta.

Di balik stoples dan pajangan kue yang rapi, tersimpan kisah dedikasi dan resep keluarga lintas generasi.

>>> Astronom Rilis Simulasi FLAMINGO, Petakan Evolusi Alam Semesta

Perjalanan ini dimulai saat Ratna masih SMP, membantu ibunya mengelola toko roti yang terintegrasi dengan usaha bridal house keluarga.

Hingga kini, Ratna tetap setia pada fondasi rasa masa lalu.

"Ini usaha turun-temurun dari ibu saya, bahkan resepnya juga dari zaman dulu," ujar Ratna.

Sejak remaja, Ratna terbiasa dengan ritme kerja padat. Waktu luangnya habis di dapur produksi bakery dan persiapan pesta pernikahan.

Pengalaman ini membentuk etos kerja kuat, meski harus mengorbankan momen santai.

"Karena jadwal kerja yang padat, saya kurang menikmati masa remaja pergi bareng teman-teman," katanya.

Awalnya, dapur bakery fokus memproduksi kue besar untuk pesta pernikahan. Namun, melihat perubahan tren, Ratna berinovasi dengan varian produk lebih ringkas dan praktis.

"Dulu memang kita bikin bolu-bolu jadul, basic resepnya dari Jepang," ucapnya.

Perubahan ini membutuhkan identitas baru. Nama Baker's Gram lahir dari dialog santai antara Ratna dan anaknya.

Sebelumnya, usaha ini bernama Golden Cake. Kata 'baker' dipilih karena julukan itu melekat pada dirinya, sementara 'gram' melambangkan presisi dalam menakar bahan.

"Saya memang dijuluki baker. Nah, kenapa gram?

Karena hanya baker yang bisa mengatur gram atau takaran. Yang bisa meracik ya baker," tuturnya.

Bangkit Setelah Pandemi

Ratna sempat keluar dari bisnis keluarga dan bekerja di perusahaan swasta. Namun, pandemi 2022 membuat perusahaan tempatnya bekerja tertekan.

Insting wirausaha memanggilnya kembali ke dunia kuliner.