Polisi Tembak Pelaku Penikaman di Interstate 495 Virginia
Seorang pria bersenjata pisau ditembak polisi di Interstate 495, Virginia, setelah melakukan penikaman yang menewaskan seorang wanita dan seekor anjing.
Peristiwa terjadi pada 1 Maret lalu, setelah pukul 13.00 waktu setempat, di dekat Washington, DC, Fairfax County.
>>> Harga Emas Antam di Pegadaian Berfluktuasi Tinggi, Sentuh Rekor Rp2.897.000
Pihak Kepolisian Negara Bagian Virginia terpaksa menembak tersangka demi membela diri. Tindakan itu diambil setelah petugas merespons panggilan kecelakaan lalu lintas.
Seorang saksi mata perempuan yang enggan disebutkan identitasnya mengaku melihat langsung proses penembakan.
"Seorang petugas keluar dan langsung menembaknya, dari apa yang saya lihat, setidaknya dua hingga tiga kali," ujarnya.
Ibu dua anak tersebut langsung menghubungi nomor darurat 911 dalam keadaan histeris. Ia merasa sangat ketakutan setelah menyaksikan peristiwa tragis itu secara langsung.
"Saya ketakutan jika ada orang lain yang terlibat, atau jika ini adalah operasi yang lebih besar daripada sekadar aksi orang gila," ungkap saksi mata.
Saksi mata kini mengalami trauma mendalam berupa kilas balik setiap melihat ambulans atau sirene. Ia harus menjalani terapi dan mengambil cuti berbayar selama delapan minggu dari tempatnya bekerja.
>>> IIMS Surabaya 2026 Resmi Dibuka, Dorong Industri Otomotif Nasional
"Saya sedang menjalani terapi, tetapi saya masih mengalami momen-momen yang bagi warga sipil biasa tampak sederhana namun membuat saya tersentak," tuturnya.
Pakar Trauma Beri Saran Pemulihan
Pakar terapi trauma asal Philadelphia, Shari Botwin, menganjurkan para korban atau saksi untuk segera menceritakan atau menuliskan pengalaman mereka.
Hal itu demi mempercepat proses pemulihan psikologis.
"Ketika Anda memproses, berbicara, dan menamai pengalaman tersebut, Anda cenderung lebih kecil kemungkinannya untuk mengalami kilas balik," jelas Botwin.
Botwin juga mengingatkan agar individu tidak menyepelekan trauma. Ia menyarankan untuk menghindari tindakan pelarian yang bersifat merusak diri sendiri selama masa pemulihan.
"Kita memiliki kecenderungan sebagai manusia untuk meremehkan trauma. Namun realitasnya adalah, tidak ada yang bisa mengendalikan bagaimana mereka menghadapi trauma," pungkas Botwin.
>>> Mendikdasmen Dorong Pemerataan Akses Pendidikan di Papua Barat Daya
Untuk metode pemulihan, psikolog klinis Ricky Greenwald merekomendasikan terapi eye movement desensitization and reprocessing (EMDR). Terapi ini dinilai efektif mengurangi gejala kecemasan sejak akhir 1980-an.
Update Terbaru
Pigai Kecam Bullying Picu Bom MAN 3 Padang: Saya Juga Korban Rasis
Rabu / 15-07-2026, 20:56 WIB
Pau Cubarsi Pecahkan Rekor Paolo Maldini di Piala Dunia
Rabu / 15-07-2026, 20:55 WIB
Pabrik Pesawat PTDI Bakal Pindah ke Kertajati
Rabu / 15-07-2026, 20:55 WIB
Kurang Sinar Matahari Bisa Bikin Susah Tidur, Ini Penjelasan Dokter
Rabu / 15-07-2026, 20:55 WIB
Cara Menemukan dan Memanen Hardwood di Palworld
Rabu / 15-07-2026, 20:50 WIB
Pemain Diablo 4 Sebut Season 14 Lelucon, Drop Rate Mythic Uniques Masih Buruk
Rabu / 15-07-2026, 20:50 WIB
AS Serang Target Militer Iran di Pulau Tunb Besar, Trump Ancang-Ancam Eskalasi
Rabu / 15-07-2026, 20:50 WIB
Kemenperin Godok Roadmap Baru Kendaraan Listrik, Ini Alasannya
Rabu / 15-07-2026, 20:49 WIB
Trump Desak Netanyahu Tarik Pasukan Israel dari Suriah dan Lebanon
Rabu / 15-07-2026, 20:49 WIB
Bank Mandiri Dorong Dua UMKM Binaan Tembus Pasar AS Lewat Pameran Makanan
Rabu / 15-07-2026, 20:49 WIB
Guru Besar UI Usulkan Sirup Sawit Merah untuk Menu MBG Ibu Hamil
Rabu / 15-07-2026, 20:49 WIB
Kejuaraan Terbuka 2026 di Royal Birkdale: Lapangan Baru, Tantangan Baru
Rabu / 15-07-2026, 20:45 WIB
Wamenag Bicara Ledakan Bom Rakitan di MAN 3 Padang: Jangan Terburu-buru Simpulkan
Rabu / 15-07-2026, 20:45 WIB
Tuchel Tertawa Maklumi Argentina Ngotot Pakai Jersey 'Jimat'
Rabu / 15-07-2026, 20:45 WIB







