Militer Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap sebuah kapal yang diduga menyelundupkan narkoba di kawasan timur Samudra Pasifik pada Rabu (27/5) waktu setempat.

Dua orang pria di atas kapal tersebut tewas dalam insiden itu.

>>> Olivia Rodrigo Rilis Single Baru 'The Cure', Bukan Cover Band Legendaris

Operasi 'Southern Spear'

Operasi militer ini diinisiasi oleh pemerintahan Donald Trump dan berlangsung selama dua hari berturut-turut di jalur penyelundupan yang telah diidentifikasi Komando Selatan AS (US Southern Command).

"Dua pria narko-teroris tewas dalam aksi ini," tulis Komando Selatan AS dalam pernyataan resminya.

Militer AS juga merilis rekaman video hitam-putih berkualitas rendah yang menunjukkan kapal sebelum dihancurkan oleh ledakan besar hingga menyisakan puing-puing terbakar.

Kampanye militer bersandi "Southern Spear" (Tombak Selatan) telah berjalan sejak awal September lalu sebagai bentuk pernyataan perang melawan kartel narkoba Amerika Latin oleh Presiden Donald Trump.

Menurut catatan AFP, agresivitas operasi ini telah memicu sorotan tajam setelah total korban tewas akibat kampanye tersebut mencapai sedikitnya 195 orang.

>>> Hari Tasyrik 2026: Umat Muslim Rayakan pada 28-30 Mei

Sehari sebelum insiden, pada Selasa, Komando Selatan AS juga melancarkan serangan serupa dan melaporkan dua korban selamat yang terdampar di laut.

Penjaga Pantai AS (US Coast Guard) disiagakan untuk evakuasi.

Kritik dari Pengamat HAM

Meski korban jiwa terus bertambah, pemerintahan Trump belum memberikan bukti definitif mengenai keterlibatan kapal-kapal target dalam jaringan perdagangan narkoba.

Hal ini memicu protes dari ahli hukum dan organisasi pembela Hak Asasi Manusia (HAM).

>>> BPI Danantara Awasi Kewajaran Harga Ekspor Komoditas Nasional Melalui DSI

Sejumlah kelompok pengamat HAM menilai rentetan serangan udara di perairan internasional ini sebagai tindakan pembunuhan di luar hukum (extrajudicial killings) karena menyasar warga sipil yang tidak memberikan ancaman langsung bagi keamanan AS.