Harga emas diperkirakan masih memiliki potensi kenaikan besar dalam beberapa tahun ke depan.

Logam mulia ini diproyeksikan mampu melonjak hingga US$ 10.000 per ons troi sebelum tahun 2030.

>>> BEI Intensif Berdiskusi dengan MSCI dan FTSE untuk Dongkrak Investasi Asing

Proyeksi tersebut disampaikan oleh Macro and Market Strategist Rockefeller Global Investment Management, Doug Moglia. Hal ini tertuang dalam laporan riset terbaru yang dikutip dari Kitco.

Moglia menjelaskan bahwa emas tetap menjadi aset utama dalam siklus bullish komoditas global. Meskipun sempat mengalami volatilitas tajam selama beberapa bulan terakhir.

Ia memperkirakan harga emas akan melampaui US$ 5.500 per ons troi pada tahun 2027.

Nilai tersebut berpotensi naik menuju US$ 8.000 sebelum akhir dekade, hingga menembus level US$ 10.000 per ons troi.

"Emas tetap menjadi jangkar utama portofolio investasi," ujar Moglia.

Menurut Moglia, reli harga emas saat ini ditopang oleh kombinasi permintaan struktural yang kuat. Keterbatasan pasokan komoditas global juga menjadi faktor pendukung.

Faktor lainnya meliputi perkembangan infrastruktur kecerdasan buatan (AI), tren elektrifikasi, keamanan energi, dan reshoring industri. Minimnya investasi di sektor komoditas selama bertahun-tahun turut mendorong kenaikan harga.

Emas dinilai telah memasuki bull market sekuler ketiga sejak tahun 2022.

Fase ini mirip dengan reli besar pada awal 1970-an setelah runtuhnya sistem Bretton Woods, serta awal 2000-an ketika emas menjadi aset lindung nilai.

Moglia berpendapat bahwa perang Rusia-Ukraina menjadi titik balik penting. Pembekuan cadangan devisa Rusia memicu bank sentral dunia meningkatkan aksi pembelian emas secara signifikan.

>>> Ahmad Syahrul Fadhil Terpilih Jadi Sekjen PB PMII yang Baru

"Bank sentral mulai menyadari cadangan devisa berbasis dolar dan euro rentan terhadap risiko politik dan hukum," kata Moglia.