Volume pembelian emas oleh bank sentral global melonjak hingga lebih dari 1.000 ton per tahun sepanjang 2022-2024.

Jumlah ini setara dengan sekitar seperempat dari total produksi tambang emas dunia.

Selain faktor bank sentral, kekhawatiran terhadap independensi The Fed, risiko fiskal global, dan konflik geopolitik seperti ketegangan di Iran turut menopang harga emas.

Di sisi lain, potensi kenaikan harga perak dinilai mulai lebih terbatas dibandingkan emas. Hal ini setelah sempat mengalami reli tajam sepanjang tahun 2025.

Perak masih didukung oleh permintaan dari sektor industri seperti panel surya, kendaraan listrik, semikonduktor, serta infrastruktur AI.

Namun, pergerakan harga perak saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen pasar dan aktivitas spekulatif.

"Potensi kenaikan perak terhadap emas kini mulai lebih terbatas," ujar Moglia.

Moglia menambahkan bahwa saham perusahaan tambang emas dan perak berpotensi memberikan keuntungan yang lebih menarik.

Hal ini didukung oleh margin yang tinggi, arus kas kuat, serta peluang peningkatan dividen maupun aksi buyback saham.

>>> Sucor AM Jadi Partner Utama IFN Forums 2026, Dorong Investasi Syariah

Rockefeller tetap merekomendasikan diversifikasi investasi komoditas dengan fokus utama pada emas. Logam industri, platinum, serta saham-saham perusahaan tambang juga menjadi pilihan.