Band rock alternatif asal Amerika Serikat, The All American Rejects, ikut menyuarakan keresahan terhadap mahalnya harga tiket konser pascapandemi.

Lewat wawancara terbaru, vokalis Tyson Ritter dan gitaris Nick Wheeler mengkritik sistem konser modern yang dinilai semakin menjauh dari penggemar biasa.

>>> Crystal Palace Juara Liga Conference Usai Tekuk Rayo Vallecano

Menurut Ritter, konser saat ini perlahan berubah menjadi hiburan eksklusif untuk kalangan tertentu. "Kami sedang berbicara tentang seni di sini.

Kenyataan bahwa Anda dapat memodifikasi penggemar Anda, itulah permainan industri sekarang," ujarnya.

Ritter menilai telah terjadi pergeseran nilai besar dalam penyajian pertunjukan musik. "Ini telah menjadi pengalaman bagi kaum satu persen teratas (orang kaya), dan menurut saya itu sangat kacau.

Karena orang-orang yang paling mencintai musik adalah mereka yang hidupnya pas-pasan, berasal dari tempat asal kami," lanjutnya.

Band pelantun "Dirty Little Secret" itu menegaskan tidak ingin larut dalam arus kapitalisasi industri musik modern.

Setelah kembali merilis album penuh usai vakum 14 tahun, mereka memilih tetap dekat dengan penggemar lewat cara sederhana.

Sebagai bentuk protes, The All American Rejects sempat menggelar tur independen dengan konsep unik.

Mereka tampil di lokasi kecil seperti pesta rumah, arena bowling, hingga lumbung padi demi menghadirkan konser murah dan intim.

Meski salah satu pertunjukan dibubarkan polisi, langkah itu mendapat dukungan dari penggemar yang merasa konser semakin sulit dijangkau.

>>> Pemeran Nobody Loves Kay Dorong Dialog Sehat Orangtua dan Anak

Nick Wheeler menyoroti kondisi industri pertunjukan yang dianggap tidak masuk akal.

"Bagaimana bisa biaya ke luar negeri untuk melihat band favoritmu lebih murah daripada melihat mereka di kotamu sendiri?"