"Memang masalah ongkos pengiriman ke luar negeri itu menjadi sesuatu yang fundamental bagi UMKM. Karena ini akan memengaruhi cost dan harga produk," ucapnya.

Eka berharap ke depan ada lokakarya lanjutan yang lebih spesifik membahas mekanisme ekspor serta perluasan program pertemuan bisnis dengan buyer global.

"Yang penting konsisten dan jaga kualitas," katanya.

Tantangan Digitalisasi dan Permodalan UMKM

Koordinator Rumah BUMN Jakarta, Jajang Rohmana, membenarkan bahwa Naeka mengalami pertumbuhan penjualan signifikan setelah rutin dilibatkan dalam pameran gratis dan program BRIncubator dari BRI.

Namun, ia mencatat tantangan permodalan yang kerap dihadapi UMKM saat mendapat pesanan ekspor dengan sistem pembayaran di akhir.

"Beberapa UMKM ketika mendapatkan buyer dari luar negeri, mereka terkendala pada pembayarannya. Pembayaran biasanya dilakukan setelah barang sampai di sana.

Sementara UMKM perlu modal yang cukup besar untuk proses produksi dan pengiriman supaya usaha mereka tetap berkembang," kata Jajang.

"Perlu dukungan penuh juga dari pemerintah untuk mengawal UMKM ini bisa sampai ekspor," katanya.

Jajang menambahkan, pengelolaan SDM dan konsistensi digitalisasi juga menjadi kendala utama bagi sebagian besar UMKM binaan.

Banyak pelaku usaha yang belum optimal mengelola akun marketplace secara berkelanjutan, bahkan sering terkendala masalah teknis sederhana seperti lupa kata sandi akun toko daring.

"SDM khusus seperti mengelola admin media sosial dan marketplace itu penting. Sehingga ada pertumbuhan di marketplace yang membuat UMKM terus berkembang," katanya.

"Kami mendorong digitalisasi UMKM, tetapi masih banyak yang terkendala hal sederhana seperti lupa password email atau akun toko online.

>>> 6 Fakta Keluarga Member KATSEYE yang Menarik

Kadang mereka sudah punya toko online, tetapi tidak bisa maintain karena lupa akunnya," ujar Jajang.