Penurunan rekomendasi ini mencerminkan tekanan dari kebijakan Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).

Ketidakpastian implementasi dan potensi dampak terhadap harga batu bara menjadi faktor utama, bukan karena fundamental komoditas yang memburuk.

>>> Ry Hyori Raih Beasiswa Pelatihan Idol K-Pop di SM Universe Singapura

AADI dan ITMG memiliki eksposur struktural tinggi terhadap risiko harga akibat kebijakan DSI. Pendapatan ekspor AADI mencapai 81% dari total pendapatan 2025, sedangkan ITMG sebesar 78%.

Sebaliknya, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) memiliki komposisi penjualan yang lebih seimbang, yaitu 51% domestik dan 49% ekspor.

Status BUMN PTBA diperkirakan mengurangi hambatan kerja sama dengan DSI selama masa transisi.

Analis MNC Sekuritas, Raka Junico W, menyatakan bahwa pembeli luar negeri biasanya lebih skeptis terhadap perantara berafiliasi negara.

Namun, mereka sudah terbiasa bertransaksi dengan BUMN, sehingga PTBA memiliki perlindungan alami terhadap risiko penolakan pembeli.

>>> 5 Film Paling Ditunggu Pertengahan 2026: Colony hingga Spider-Man

Data sensitivitas menunjukkan ITMG paling rentan terhadap penurunan harga jual rata-rata.

Setiap penurunan 1% ASP ekspor diperkirakan menurunkan laba ITMG sebesar 3,6%, PTBA 3,4%, dan AADI 3,1%.

Sementara itu, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) memiliki profil laba paling tahan terhadap tekanan harga. Dampak penurunan 1% ASP ekspor hanya sekitar 1,2% terhadap laba ADRO.

Ketahanan ADRO didukung portofolio bisnis yang lebih terdiversifikasi, termasuk infrastruktur energi dan eksposur energi terbarukan. Hal ini mampu mengimbangi risiko spesifik dari bisnis batu bara.

Jika kebijakan DSI hanya berfungsi sebagai pengawas transaksi tanpa intervensi harga, mekanisme pasar tetap berjalan murni dan berdampak positif.

>>> Fuji Tolak Mediasi, Mantan Admin Jadi Tersangka Penggelapan Dana Rp 1 Miliar

Risiko negatif muncul jika ada batas harga ekspor serupa DMO atau konsolidasi perusahaan tambang oleh negara.