Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir mengajak umat Islam memaknai Iduladha sebagai momentum penting untuk menghidupkan spiritualitas takwa.

Spiritualitas itu harus membumi dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari pribadi hingga kemanusiaan universal.

>>> Sutradara Daniel Fahre Rilis Film Perang Norwegia The Battle of Oslo

Peringatan hari besar keagamaan ini diharapkan tidak sekadar menjadi ritual formal tahunan. Haedar menekankan pentingnya transformasi moral masyarakat dan bangsa.

"Iduladha jangan dimaknai hanya sebagai ritual formal berupa salat Id dan penyembelihan hewan kurban.

Di balik ibadah tersebut terdapat tujuan utama yang jauh lebih mendalam, yakni membentuk pribadi yang bertaqwa kepada Allah SWT," ungkap Haedar Nashir pada Selasa (26/5).

Pembentukan karakter manusia yang patuh terhadap perintah agama menjadi muara utama dari seluruh rangkaian ibadah Islam. Karakter tersebut juga menjadi fondasi penting dalam membangun moralitas yang kokoh.

"Allah menegaskan bahwa yang sampai kepada-Nya bukanlah daging dan darah hewan kurban, melainkan ketakwaan dari manusia yang melaksanakannya.

Karena itu, substansi Iduladha adalah penguatan spiritualitas dan moralitas," tutur Haedar Nashir dalam siaran pers pada Selasa (26/5).

Teladan dari Kisah Nabi

Kisah sejarah para nabi terdahulu menjadi rujukan utama dalam memahami esensi pengorbanan yang tulus. Nilai-nilai keteladanan tersebut memperlihatkan kepatuhan mutlak kepada pencipta.

"Nabi Ibrahim rela mengorbankan putra tercintanya atas perintah Allah. Siti Hajar menunjukkan keteguhan iman, sementara Nabi Ismail memperlihatkan kepatuhan yang sangat tinggi.

Ketiganya menjadi uswah hasanah tentang bagaimana ketakwaan melahirkan jiwa pengorbanan dan kebajikan," papar Haedar Nashir.

Sifat takwa dinilai mampu membebaskan manusia dari egoisme pribadi dan keserakahan duniawi. Sebaliknya, keshalehan sosial akan terbangun kuat di tengah kehidupan masyarakat luas.