Apabila dinyatakan lolos, mereka harus mencantumkan gelar haji di depan nama serta mengenakan identitas khas seperti sorban putih dan pakaian tertentu agar mudah dikenali.

Tujuan aturan itu ternyata bukan sekadar administratif.

Pemerintah Hindia Belanda ingin lebih mudah mengawasi para eks-jemaah haji karena dianggap berpotensi memimpin pemberontakan. Ketakutan tersebut semakin besar setelah pecahnya Perang Jawa yang dipimpin Pangeran Diponegoro.

Pemerintah kolonial percaya banyak gerakan perlawanan lahir dari pengaruh tokoh agama dan mereka yang pernah belajar di Tanah Suci.

Akibatnya, penyematan gelar Haji dijadikan alat pengawasan politik.

Saat muncul pemberontakan, pemerintah bisa lebih mudah mengidentifikasi dan memantau orang-orang yang dianggap berpengaruh di masyarakat. Menariknya, kebiasaan itu ternyata terus bertahan bahkan setelah Indonesia merdeka.

>>> Daftar Lengkap Pemenang American Music Awards 2026

Meski konteks politik kolonial sudah hilang, sapaan Pak Haji dan Bu Haji akhirnya berubah menjadi bentuk penghormatan sosial yang diwariskan lintas generasi hingga sekarang.