Beberapa seniman senior yang terdampak dikabarkan akan ditawari transisi status menjadi kontraktor independen tanpa jaminan jangka panjang.

Penyebab Restrukturisasi

Bagi para pengamat industri, keputusan merestrukturisasi Marvel Studios bukanlah hal yang sepenuhnya mengejutkan. Langkah ini menjadi puncak dari masalah yang telah menumpuk.

Manajemen pusat mengambil tindakan tegas setelah beberapa tahun terakhir MCU dibanjiri kritik akibat penurunan kualitas CGI dan kejenuhan penonton karena terlalu banyak rilisan film dan serial di Disney+.

>>> PT Pradiksi Gunatama Tbk Patuhi Kebijakan Ekspor Sumber Daya Alam

Marvel Studios sebelumnya telah mengumumkan rencana pemotongan skala produksi secara drastis untuk mengembalikan fokus pada kualitas narasi dan visual.

Kebutuhan akan staf tetap dalam jumlah besar otomatis ikut menurun ketika proyek yang diproduksi berkurang.

Di bawah kepemimpinan Josh D'Amaro, Disney berada dalam tekanan besar dari pemegang saham untuk memangkas biaya operasional pasca-pandemi dan perang streaming.

Marvel menjadi target utama efisiensi karena selama ini dikenal sebagai divisi dengan anggaran belanja produksi paling besar.

Namun, laporan internal mengonfirmasi bahwa PHK di tubuh Marvel murni didorong oleh restrukturisasi finansial dan strategi korporat.

Kesejahteraan Pekerja Kreatif Terancam

Berbeda dengan gelombang pemangkasan di sektor industri kreatif lain, posisi para seniman Marvel yang dirumahkan tidak digantikan oleh teknologi otomatisasi atau Kecerdasan Buatan (AI).

Langkah ini memicu perdebatan sengit mengenai masa depan kesejahteraan pekerja kreatif di industri film.

Pergeseran dari sistem karyawan tetap menjadi sistem kontrak berbasis proyek dinilai menguntungkan korporasi dari segi efisiensi anggaran, namun menciptakan ketidakpastian ekonomi bagi para seniman.

Kabar buruk ini langsung menjadi topik panas di kalangan profesional seni global. Gelombang solidaritas pun bermunculan di media sosial.