Artinya: “Berikan makanan, tebarkan salam, sambunglah tali silaturahim dan lakukan shalat malam ketika orang-orang tidur, niscaya kalian masuk surga dengan selamat.”

Jamaah Jumat yang Dimuliakan Allah,

Silaturahim dapat dilakukan dengan banyak cara. Ada yang datang langsung mengunjungi keluarga, ada yang menyempatkan menelepon, ada pula yang sekadar menanyakan kabar melalui pesan singkat. Hal sederhana semacam itu tetap bernilai kebaikan apabila dilakukan dengan niat menjaga persaudaraan.

Jangan menunggu orang lain memulai lebih dulu. Jangan pula menunggu hubungan membaik dengan sendirinya. Kadang sebuah sapaan singkat justru menjadi jalan terbukanya kembali hubungan yang lama renggang.

Islam melarang umatnya memutus hubungan kekeluargaan. Rasulullah SAW bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعُ رَحِمٍ

Artinya: “Tidak akan masuk surga orang yang memutus tali silaturahim.”

Hadis tersebut menjadi peringatan agar kita tidak memelihara permusuhan terlalu lama. Sebab umur manusia tidak ada yang tahu kapan berakhir.

Hadirin Rahimakumullah,

Menjaga silaturahim juga berarti hadir ketika saudara sedang mengalami kesulitan. Membantu saat mereka membutuhkan, mendatangi ketika sakit, serta memberi dukungan ketika tertimpa musibah termasuk bagian dari akhlak seorang muslim.

Dalam hadis lain disebutkan:

مَا مِنْ مُؤْمِنٍ يُعَزِّي أَخَاهُ بِمُصِيبَةٍ إِلَّا كَسَاهُ اللهُ مِنْ حُلَلِ الْكَرَامَةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Artinya: “Tidaklah seorang mukmin menghibur saudaranya yang terkena musibah, kecuali Allah akan memakaikannya pakaian kemuliaan pada hari kiamat.”

Silaturahim bukan penyebab sempitnya rezeki. Justru dengan menjaga hubungan baik, Allah membuka banyak pintu keberkahan dalam hidup.

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Artinya: “Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung tali silaturahim.”