Presiden Amerika Serikat Donald Trump membatalkan rencana penandatanganan perintah eksekutif baru mengenai kecerdasan buatan (AI) di Gedung Putih pada Kamis (22/5/2026).

Pembatalan dilakukan beberapa jam sebelum acara resmi demi menjaga posisi AS dalam persaingan teknologi global.

>>> PHK Massal Industri Teknologi Tembus 114.210 Orang Akibat AI

Kebijakan tersebut awalnya dirancang sebagai kerja sama sukarela antara pemerintah dan korporasi teknologi untuk mengevaluasi risiko keamanan nasional dari model AI paling mutakhir sebelum dipasarkan.

Namun, Trump menyatakan keengganannya mengambil tindakan yang dapat menghambat dominasi domestik atas kompetitor internasional.

“Kita memimpin China, kita memimpin semua orang, dan saya tidak ingin melakukan apa pun yang akan menghalangi keunggulan itu,” kata Trump kepada wartawan.

Sebelumnya, aparatur pemerintah mendorong pengetatan pengawasan menyusul kekhawatiran sektor perbankan terhadap kapabilitas model AI baru dalam mendeteksi celah keamanan siber.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengadakan pertemuan darurat dengan para pemimpin institusi finansial Wall Street dan Ketua Federal Reserve Jerome Powell untuk membahas risiko dari model Claude Mythos milik Anthropic.

“Model Anthropic yang baru ini sangat ampuh,” kata Bessent dalam forum CNBC Invest in America di Washington.

Bessent menjelaskan bahwa kapasitas proteksi siber di antara lembaga perbankan masih belum merata.

“Beberapa bank melakukan pekerjaan yang lebih baik dalam keamanan siber daripada yang lain, dan kami ingin memiliki kemampuan untuk mengumpulkan mereka dan membicarakan praktik terbaik dan ke mana mereka harus menuju,” lanjut Bessent.

Pembatalan ini mencerminkan dinamika internal pemerintahan yang menghadapi dilema antara percepatan inovasi dan desakan perlindungan publik.

Profesor Ilmu Komputer Universitas Brown Serena Booth menilai situasi ini menunjukkan perbedaan pandangan yang nyata dalam merumuskan kebijakan regulasi.