“Hal itu berpotensi menimbulkan biaya yang sangat besar bagi inovasi dan kecepatan pengembangan,” kata Booth.

Booth menambahkan bahwa terdapat risiko nyata yang membayangi kedua pilihan kebijakan tersebut.

>>> Lapor Pak! Sukses Hibur Pengunjung Jogja Financial Festival 2026 Hari Pertama

“Saya pikir ada risiko nyata di sini dan saya melihat kedua sisi,” lanjut Booth.

Perubahan haluan yang terjadi secara mendadak menurutnya menjadi indikasi kuat adanya perpecahan dalam tubuh pemerintahan terkait pembatasan teknologi.

“Kita memang melihat semacam pertikaian publik,” kata Booth.

Booth menyoroti ketidakpastian dari keputusan penandatanganan regulasi yang berubah dalam waktu singkat.

“Kita akan mengeluarkan perintah eksekutif. Tidak, kita tidak akan.

Kita akan menandatanganinya siang ini. Oh, penandatanganannya dibatalkan.

Saya pikir perubahan mendadak ini terjadi karena kita melihat keretakan-keretakan ini,” ujarnya.

Pemerintah AS menyatakan tetap berupaya mencari titik keseimbangan dalam menyikapi perkembangan AI.

Wakil Presiden AS JD Vance menegaskan komitmen otoritas eksekutif untuk mendukung kemajuan sektor teknologi sekaligus memitigasi dampak negatifnya bagi masyarakat.

“Presiden ingin kita pro-inovasi. Dia ingin kita memenangkan perlombaan AI melawan semua negara lain di dunia,” kata Vance.

Pemerintah juga memastikan aspek perlindungan bagi warga negara tetap menjadi prioritas utama.

>>> Jadwal Penjualan dan Daftar Harga Tiket Konser BTS di GBK 2026

“Kami juga ingin memastikan bahwa kami melindungi masyarakat,” lanjut Vance.