Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Kreatif, Yovie Widianto, menilai Indonesia memiliki potensi besar membangun kekuatan ekonomi kreatif seperti Korea Selatan.

Menurutnya, budaya bukan sekadar ekspresi seni, melainkan aset ekonomi dan alat diplomasi global jika dikelola serius.

>>> KABAR DUKA! Takahiro Fujiwara Pengisi Suara Kurogiri di My Hero Academia Meninggal pada Usia 43 Tahun pada 14 Mei 2026

Hal itu disampaikan Yovie dalam Musical Talks di Jogja Financial Festival 2026.

Ia mencontohkan Korea Selatan yang berhasil mengubah K-pop, film, drama, fesyen, hingga gim menjadi identitas nasional dan mesin ekonomi.

"Jika dikelola dengan baik, karya kreatif bisa menjadi identitas nasional, instrumen diplomasi, mesin ekonomi, sampai pengaruh global," kata Yovie.

Indonesia, menurut Yovie, memiliki modal budaya yang tak kalah besar. Ia mencatat ada lebih dari 550 simpul budaya dari Sabang sampai Merauke.

Bahkan, perbedaan budaya bisa ditemukan dalam satu wilayah yang berdekatan.

"Jogja Selatan sama Jogja Utara beda. Sleman sama Bantul juga punya gaya berbeda," katanya.

Yovie menilai budaya lokal Indonesia seharusnya bisa diolah menjadi produk ekonomi kreatif bernilai tinggi. Caranya lewat teknologi, branding, storytelling, dan distribusi digital.

"Melalui branding, storytelling, dan distribusi digital, nilai budaya dapat melintas batas ruang, waktu, dan pasar," ujar Yovie.

Penulis banyak lagu hits itu juga mengingatkan generasi muda untuk tetap bangga menggunakan bahasa Indonesia. Menurutnya, bahasa Indonesia adalah modal penting dalam ekonomi kreatif nasional.

>>> Yovie Widianto Ajak Generasi Muda Tidak Takut pada AI

"Kalau masuk rumah saya, enggak ada lagi bahasa Inggris. Bahasa Indonesia adalah modal utama ekonomi kreatif Indonesia," tegasnya.