Film dokumenter berjudul Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita kini dapat diakses masyarakat luas melalui kanal online resmi.

Sebelumnya, karya audio visual ini lebih banyak didistribusikan lewat rangkaian acara nonton bareng di berbagai daerah.

>>> Kronologi Kebakaran Auditorium Binus di Palmerah, Api Padam dalam 30 Menit

Sinematografi garapan Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Paju Dale tersebut menarik perhatian publik karena jalur distribusinya yang tidak biasa.

Dokumenter dengan durasi sekitar 95 menit ini awalnya hanya dapat disaksikan melalui pemutaran komunitas serta agenda nobar yang sifatnya terbatas.

Bahkan, pelaksanaan pemutaran film tersebut sempat dilaporkan mengalami pembubaran di beberapa wilayah.

Langkah penayangan digital diambil melalui unggahan video bertajuk “PESTA BABI | FULL MOVIE OFFICIAL”.

Melalui perilisan digital ini, masyarakat kini bisa menonton langsung lewat saluran resmi mereka.

Mengangkat Realitas Masyarakat Adat Papua

Film Pesta Babi menjadi pusat perhatian karena merekam realitas masyarakat adat di Papua Selatan.

Mereka harus berhadapan dengan proyek pangan dan energi skala masif yang masuk dalam skema Proyek Strategis Nasional.

Alur cerita film menyoroti langsung kehidupan warga dari suku Marind, Yei, Awyu, hingga Muyu.

Wilayah adat tempat tinggal mereka terdampak langsung oleh pembangunan perkebunan tebu serta industri biodiesel sawit.

Salah satu figur yang dihadirkan dalam dokumenter ini adalah Yasinta Moiwend yang berasal dari suku Marind Anim.

Ia mengisahkan keterkejutannya saat menyaksikan kapal besar mengangkut ratusan alat berat mendarat di kampungnya.

>>> KABAR DUKA! Takahiro Fujiwara Pengisi Suara Kurogiri di My Hero Academia Meninggal pada Usia 43 Tahun pada 14 Mei 2026

Kedatangan alat-alat berat tersebut terjadi tanpa ada pemberitahuan atau informasi awal kepada warga setempat.