Sani menilai ada perbedaan besar antara klaim kelayakan B50 dari kementerian dengan realita operasional bus AKAP setiap hari.

Pengujian laboratorium dianggap belum mencerminkan kondisi riil di jalur lintas daerah.

"Mereka bicara teori. ESDM billing enggak ada masalah kalau pada saat ngetes.

Ya iya, ngetesnya cuma sebulan sama berapa ribu kilometer doang. Sementara kami kan jangka panjang dan menjadi dilema," tutur Sani.

Untuk mengantisipasi peluncuran B50, sejumlah operator bus terpaksa mengeluarkan biaya ekstra memasang alat tambahan.

Mereka memasang katalisator bermagnet senilai Rp 10 juta hingga Rp 15 juta pada jalur bahan bakar.

Alat itu berfungsi memisahkan kandungan air sebelum solar mengalir menuju filter atas mesin.

>>> Korlantas Polri Tegaskan Delapan Protokol Pengawalan Lalu Lintas

"Meskipun pabrikan sasis premium seperti Scania, Mercedes-Benz, atau Volvo membuat statement kalau mereka comply dengan B50 secara teori dan kertas, fakta di lapangan justru tangki penyimpanannya yang jahat," kata Sani.