Rencana pemerintah memperluas mandatori biosolar B50 pada Juli mendatang menimbulkan kekhawatiran di kalangan pengusaha transportasi darat.

Masalah teknis dengan B35 dan B40 yang beredar saat ini sudah mereka hadapi di lapangan.

>>> Alex Marquez Dipastikan Absen di MotoGP Italia dan Hungaria

Pemilik perusahaan otobus (PO) cemas peningkatan bauran minyak sawit pada solar akan memperpendek usia komponen mesin armada modern.

Ketua Umum Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI) Kurnia Lesani Adnan mengatakan persoalan utama biodiesel bukan pada teknologi bahan bakar, melainkan sistem penyimpanan di SPBU.

"Masalah storage di SPBU ini sangat signifikan terjadi pada saat pancaroba, dari panas ke dingin. Terjadi kondensasi.

Pemisahan antara nabati dan fosilnya sangat terjadi lebih cepat," ujar Sani, Rabu (20/5/2026).

Dispenser di SPBU langsung menyalurkan bahan bakar tanpa proses pencampuran ulang di tangki penyimpanan bawah tanah.

Akibat perubahan cuaca, senyawa nabati yang terpisah di dalam tangki ikut tersedot ke dalam bus.

"Begitu masuk ke tangki kita, disaring, filter jadi menggel. Jadi filter itu kayak jelly dia, karena menangkap nabatinya dan air," kata Sani.

Pembentukan gel pada solar mengganggu operasional armada di jalan raya.

Pasokan bahan bakar yang tersumbat pada filter membuat tenaga bus merosot dan kendaraan tersendat-sendat.

Kondisi darurat memaksa kru bus selalu menyiapkan filter solar cadangan selama perjalanan.

>>> Chery Incar Pasar AS, Kongres Tolak Keras

Dalam jangka panjang, pengendapan solar berkadar nabati tinggi berisiko merusak komponen vital kendaraan yang memerlukan biaya perbaikan besar.

"Injektor kita umurnya pendek. Yang duluan kena itu injektor sama fuel pump.

Itu yang paling cepat," ujar Sani.