Pemerintah berencana mengonversi 120 juta sepeda motor konvensional menjadi sepeda motor listrik. Rencana ambisius ini dinilai memerlukan cetak biru yang matang, bukan sekadar target di atas kertas.

Pengamat otomotif nasional, Bebin Djuana, menekankan pentingnya persiapan menyeluruh. Menurutnya, program konversi harus dimulai dari pelatihan keterampilan.

>>> Periklindo Luncurkan PEVS 2026 di Jakarta, Target Transaksi Rp500 Miliar

Desentralisasi dan Pendidikan Vokasi

Bebin mengatakan skala konversi yang besar tidak akan efektif jika hanya berpusat di kota besar. Proses pengerjaan harus menyebar ke seluruh pelosok Nusantara.

Anak muda lulusan STM dan setingkat perlu dilibatkan agar program ini menjadi sumber penghasilan mereka.

Dengan melibatkan sekolah teknik, pemerintah dapat mempercepat target populasi kendaraan listrik sekaligus membuka lapangan kerja baru di daerah.

>>> Daihatsu Perkuat Penjualan di Wilayah Rural dengan Strategi Blue Ocean

Tantangan Rantai Pasok dan Biaya

Tantangan terbesar lainnya adalah rantai pasok komponen seperti baterai, motor listrik, dan controller. Peran penyuplai lokal dan industri swasta sangat krusial untuk menekan biaya produksi.

Bebin menekankan bahwa swasta perlu dilibatkan untuk mendapatkan produk berkualitas dengan harga wajar. Hal ini penting karena target konsumen adalah masyarakat yang sensitif terhadap harga.

Jika biaya konversi setara atau lebih mahal dari harga motor bekas, program ini sulit berjalan optimal.

>>> BYD Luncurkan Atto 1 Varian Terendah Rp 199 Juta, Cicilan Mulai Rp 1 Jutaan

Intervensi pemerintah dalam bentuk insentif, standardisasi harga, dan subsidi silang menjadi kunci keberhasilan transisi energi di sektor transportasi roda dua.