Pangkalan tersebut berada di negara seperti Qatar, Bahrain, Kuwait, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.

Rudal Sejjil menarik perhatian karena menggunakan bahan bakar padat yang membuat proses peluncuran bisa dilakukan lebih cepat dibandingkan rudal berbahan bakar cair.

Jaringan peluncur bawah tanah

Salah satu aspek yang dianggap paling sulit dihancurkan oleh lawan adalah jaringan fasilitas rudal bawah tanah Iran.

Selama bertahun-tahun, Iran membangun terowongan penyimpanan, basis militer tersembunyi, serta situs peluncuran yang berada jauh di bawah permukaan tanah.

Kompleks tersebut sering disebut sebagai “kota rudal”.

Struktur ini memungkinkan Iran tetap mempertahankan kemampuan serangan bahkan setelah menerima serangan besar dari pihak lawan.

Rudal jelajah dan taktik drone

Selain rudal balistik, Iran juga mengembangkan rudal jelajah seperti Soumar yang memiliki jangkauan hingga sekitar 2.500 kilometer.

Berbeda dengan rudal balistik yang mengikuti lintasan tinggi, rudal jelajah terbang pada ketinggian rendah dan dapat mengikuti kontur permukaan bumi.

Karakteristik tersebut membuatnya lebih sulit terdeteksi radar.

Strategi ini kerap dipadukan dengan penggunaan drone serang dalam jumlah besar.

Taktik saturasi seperti ini bertujuan membebani sistem pertahanan udara lawan sehingga perlindungan terhadap fasilitas penting menjadi lebih sulit.

Tekanan terhadap jalur energi global

Iran juga memiliki kemampuan untuk memengaruhi perdagangan energi dunia melalui Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran minyak terpenting di dunia.

Dengan rudal anti-kapal, ranjau laut, dan armada kapal cepat, Iran dapat mengancam kapal tanker yang melintas di kawasan tersebut.

Korps Garda Revolusi Iran dilaporkan telah menyerang beberapa kapal tanker minyak yang memiliki keterkaitan dengan Amerika Serikat dan Inggris di sekitar selat itu.