Ketegangan di Timur Tengah meningkat tajam setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Iran pada 28 Februari 2026.

Serangan tersebut dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei bersama sejumlah pejabat penting lainnya. Peristiwa itu langsung memicu respons keras dari Teheran.

Iran kemudian meluncurkan serangan balasan yang menargetkan berbagai fasilitas militer Israel serta pangkalan yang berkaitan dengan Amerika Serikat di kawasan, termasuk di sejumlah negara Teluk.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan tindakan tersebut merupakan bentuk pembelaan terhadap kehormatan negara.

“Membalas pembunuhan Khamenei dan pejabat senior lainnya adalah kewajiban serta hak sah negara ini,” ujar Pezeshkian dalam pernyataan yang disampaikan pada Minggu.

Dalam menghadapi kekuatan militer Amerika Serikat dan Israel, Iran banyak mengandalkan kekuatan rudal sebagai tulang punggung strateginya.

Rudal menjadi kekuatan utama

Karena tidak memiliki armada angkatan udara modern dalam jumlah besar, Iran mengembangkan berbagai jenis rudal untuk menjaga kemampuan serangan jarak jauh.

Sejumlah analis menilai Iran memiliki salah satu arsenal rudal paling besar dan beragam di kawasan Timur Tengah.

Rudal jarak pendek

Untuk jarak sekitar 150 hingga 800 kilometer, Iran mengandalkan keluarga rudal Fateh seperti Zolfaghar, Qiam-1, serta Shahab-1 dan Shahab-2.

Rudal jenis ini dirancang untuk menghantam target militer di wilayah sekitar secara cepat. Keunggulan utamanya terletak pada kemampuan peluncuran dalam jumlah besar sekaligus.

Taktik salvo tersebut dapat mempersempit waktu reaksi sistem pertahanan udara lawan.

Rudal jarak menengah

Iran juga memiliki sejumlah rudal jarak menengah dengan jangkauan sekitar 1.500 hingga 2.500 kilometer.

Sistem seperti Shahab-3, Emad, Ghadr-1, serta keluarga Sejjil memungkinkan Iran menjangkau target yang lebih jauh, termasuk Israel dan berbagai pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.