Pasokan Alternatif Terbatas

Matt Smith dari Kpler menyebut lebih dari 20 juta barel minyak telah dimuat untuk ekspor dari kawasan Teluk, termasuk Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Qatar. Namun sejumlah kapal tanker dilaporkan mulai mengalihkan rute.

Cadangan kapasitas produksi minyak dunia sebagian besar berada di negara-negara Teluk. Jika Selat Hormuz tertutup, kapasitas tersebut praktis terisolasi dari pasar. Sekitar 20 persen ekspor gas alam cair global, terutama dari Qatar, juga melintasi jalur yang sama.

McNally memperkirakan negara-negara Asia sebagai importir utama akan melakukan penimbunan besar-besaran jika jalur itu ditutup. “Anda akan melihat perang penawaran terbesar,” ujarnya.

Kenaikan harga, menurutnya, hanya akan berhenti ketika perlambatan ekonomi menekan permintaan dan menyeimbangkan pasar.

Serangan Balasan dan Dampaknya

Media pemerintah Iran melaporkan serangan rudal ke pangkalan militer AS di Qatar, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Bahrain. Tom Kloza dari Kloza Advisors menilai eskalasi tersebut dapat mendorong perusahaan asuransi menaikkan premi kapal tanker secara tajam atau bahkan menolak menjamin pelayaran melalui Selat Hormuz.

Pemerintahan Presiden Donald Trump memiliki opsi memanfaatkan Strategic Petroleum Reserve jika harga melonjak. Cadangan strategis AS saat ini sekitar 415 juta barel.

Namun Kevin Book dari ClearView Energy Partners mengingatkan bahwa dalam krisis pasokan, durasi dan skala gangguan menjadi faktor krusial. Krisis penuh di Selat Hormuz dinilai berpotensi melampaui kemampuan cadangan strategis Amerika Serikat dan negara-negara anggota International Energy Agency dalam meredam dampaknya.