Karya epik tersebut tidak hanya sukses di pasaran, tetapi juga membawa Higashino meraih penghargaan sastra paling bergengsi di Jepang, Naoki Prize, pada tahun 2006. Selain itu, ia juga tercatat sebagai peraih Honkaku Mystery Award, sebuah penghargaan yang dianugerahkan kepada karya-karya misteri dengan teka-teki logika yang paling sempurna.

Dari Seorang Insinyur Menjadi Sastrawan Legendaris
Kisah hidup Higashino sendiri sebenarnya tak kalah menarik dari novel-novelnya. Lahir di Osaka pada tahun 1958, kecintaannya terhadap cerita misteri dan detektif telah tumbuh sejak ia masih duduk di bangku sekolah.

Namun, jalan menuju kesuksesan kepenulisannya tidak instan. Sebelum memutuskan untuk menjadi penulis penuh waktu, Higashino bekerja sebagai seorang insinyur di perusahaan raksasa komponen otomotif, Denso. Ia menulis di sela-sela waktu istirahatnya, membuktikan bahwa passion tidak mengenal batasan profesi.

Puncak dari kerja kerasnya terjadi pada tahun 1985. Naskah debutnya yang berjudul After School berhasil memenangkan Edogawa Rampo Prize, sebuah penghargaan prestisius untuk penulis misteri baru di Jepang. Novel tersebut langsung diterbitkan pada tahun yang sama dan menjadi batu loncatan yang mengubah hidupnya selamanya.

Prestasinya terus menanjak. Pada tahun 2014, ia kembali meraih Yoshikawa Eiji Literature Prize lewat novel The Final Curtain. Kontribusinya yang luar biasa terhadap genre misteri juga membuatnya dipercaya menjabat sebagai Presiden Mystery Writers of Japan pada periode 2009 hingga 2013.

>>> Mengenal David Jonsson, Black Panther Baru MCU: Biodata, Karier, hingga Fakta Menarik!

Sosok yang Rendah Hati dan Misterius
Meskipun karya-karyanya dibaca oleh jutaan orang dan ia dianggap sebagai "dewa"-nya novel misteri Jepang, Higashino dikenal sebagai sosok yang sangat privat. Ia jarang sekali tampil di hadapan kamera atau menghadiri acara-acara gemerlap selebritas.