Janji Manis yang Menggantung: Tagihan WiFi dan Rapat Desa

Percakapan terakhir mereka bukan tentang hal-hal besar atau firasat buruk, melainkan tentang tanggung jawab kecil dan janji keluarga yang sangat relatable. Sebagai seorang yang aktif dalam kegiatan sosial, Sumarna juga mengemban tugas sebagai anggota Perlindungan Masyarakat (Linmas) di desanya.
 
Sang istri dengan penuh kasih mengingatkan suaminya tentang agenda malam tersebut. "Dia kan lagi main HP sambil berbaring. Pak, saya ngingetin, nanti malam ada rapat di desa. Kan beliau linmas di desanya, ada rapat. Jangan lupa, kata saya gitu," kenangnya.
 
Namun, yang paling membekas dan kini menjadi duri dalam ingatan sang istri adalah sebuah janji sederhana terkait kebutuhan rumah tangga. Dengan nada bercanda namun serius, ia menagih janji Sumarna untuk segera memperbaiki koneksi internet rumah mereka begitu penghasilan tetap (Siltap) cair.
 
"Ada rapat, jangan lupa, kata saya gitu ya. Terus saya bilang gini: Pak, kalau dibagi Siltap, jangan lupa janji Ayah ke Mamah mau bayarin WiFi," tandasnya. Kalimat itu kini terpatri sebagai pengingat betapa hidupnya mereka penuh dengan rencana-rencana kecil yang tiba-tiba dihentikan secara paksa oleh takdir yang kejam.
 

Sosok Sumarna: Dedikasi Ganda untuk Keamanan Lingkungan

Sumarna bukanlah sosok yang asing bagi warga sekitar. Selain bertugas sebagai satpam di area vital seperti Bendungan Jatiluhur, ia juga dikenal sebagai anggota Linmas yang aktif dan peduli terhadap ketertiban di tingkat desa. Dedikasi gandanya ini menunjukkan bahwa Sumarna adalah pribadi yang bertanggung jawab, baik terhadap institusi tempatnya bekerja maupun terhadap lingkungan sosial tempat ia tinggal.
 
Kematian seorang pengayom masyarakat dengan kondisi yang tidak wajar—tangan terborgol dan ditemukan tenggelam—tentu saja menimbulkan gejolak emosi di kalangan warga. Banyak yang merasa kehilangan sosok yang selama ini dianggap sebagai bagian dari sistem pertahanan keamanan lingkungan yang paling depan.