Google mengumumkan telah menandatangani Kode Etik AI Uni Eropa tentang Transparansi Konten Buatan AI. Langkah ini diambil untuk mendukung penggunaan AI yang bertanggung jawab di Eropa.

Kode etik ini mendukung kepatuhan terhadap kewajiban transparansi berdasarkan Pasal 50 Undang-Undang AI Uni Eropa.

>>> Suhu AC Inverter Ideal Malam Hari: 24-26°C untuk Hemat Listrik

Aturan tersebut mewajibkan penyedia dan pengguna sistem AI generatif untuk menandai, mendeteksi, dan memberi label konten buatan atau yang dimanipulasi AI.

Cakupan transparansi meliputi audio, gambar, video, dan teks buatan AI, termasuk deepfake. Kewajiban ini akan mulai berlaku pada 2 Agustus 2026.

Kode etik disusun oleh pakar independen melalui proses multi-pemangku kepentingan yang difasilitasi oleh Kantor AI Eropa. Meskipun penandatanganan bersifat sukarela, persyaratan transparansi dalam Pasal 50 adalah kewajiban hukum.

Upaya Transparansi AI Google

Karen Massin, Kepala Urusan Pemerintahan dan Kebijakan Publik Google untuk Institusi Uni Eropa, mengatakan penandatanganan ini melanjutkan komitmen Google pada 2025 terhadap Kode Etik GPAI.

Langkah ini juga selaras dengan adopsi standar industri C2PA dan pengembangan alat transparansi AI seperti SynthID.

Google menyoroti sejumlah upaya transparansi AI, termasuk dukungan terhadap standar C2PA untuk asal-usul konten.

>>> 6 Alasan Wajah Kusam Setelah Pakai Bedak dan Cara Pilih Shade yang Tepat

Perusahaan juga mengembangkan SynthID, teknologi watermarking digital yang membantu pengguna memahami bagaimana konten dibuat dan diedit.

Selain itu, Google bermitra dengan laboratorium AI pihak ketiga dan perusahaan teknologi seperti Apple, ElevenLabs, Kakao, NVIDIA, dan OpenAI.

Tujuannya mendukung adopsi alat watermarking interoperabel menggunakan SynthID.

Kekhawatiran tentang Kompleksitas Regulasi

Google mendukung transparansi, tetapi menyuarakan kekhawatiran bahwa kompleksitas regulasi tambahan dapat bertentangan dengan tujuan Eropa meningkatkan daya saing dan menyederhanakan regulasi.

Solusi teknis untuk transparansi AI masih terus berkembang.

Perusahaan menilai bahwa label AI dan pengungkapan hukum yang tumpang tindih dapat menyulitkan pengguna mendapatkan konteks yang jelas tentang konten daring.

>>> Mobil Listrik China Pangkas Impor Minyak, Cegah Krisis Akibat Konflik Teluk

Google berkomitmen bekerja sama dengan regulator dan mitra untuk mengembangkan solusi praktis yang memberikan transparansi.