Saya sudah lama mengikuti perkembangan ponsel Android. Namun, untuk pertama kalinya, saya tidak tertarik membeli ponsel baru dalam waktu dekat.

Bukan karena tidak ada ponsel bagus. Masalahnya, peningkatan yang ditawarkan terasa semakin tidak berarti.

>>> Fosil Dinosaurus China Pameran Perdana di Indonesia, Perkuat Kerja Sama Ilmiah

Prosesor sudah sangat cepat. Layar sudah tajam dengan refresh rate tinggi.

Kamera pun sudah mumpuni di hampir semua merek.

Yang tersisa hanyalah peningkatan kecil yang tidak cukup untuk membuat saya mengeluarkan uang lebih.

AI Justru Membuat Harga Ponsel Makin Mahal

Produsen kini mengandalkan kecerdasan buatan sebagai alasan utama untuk upgrade. Namun, fitur AI sering kali bisa dinikmati di ponsel lama.

Agar AI berjalan mulus, ponsel butuh RAM dan penyimpanan lebih besar. Komponen ini harganya melonjak karena permintaan tinggi.

>>> Speedboat Bawa 11 Turis Asing Hilang di Perairan Gorontalo

Akibatnya, harga ponsel naik atau kualitas ditekan di sektor lain. Tidak ada pilihan yang menguntungkan konsumen.

Baterai adalah Satu-satunya Harapan

Satu area yang sangat diabaikan adalah baterai. Samsung Galaxy S Ultra masih menggunakan sel 5.000 mAh yang sama sejak 2020.

Enam tahun tanpa perubahan berarti di sektor baterai adalah waktu yang sangat lama untuk industri ponsel.

Produsen China sudah lebih dulu mengembangkan baterai silikon-karbon. Samsung baru mulai menguji teknologi ini di Galaxy Z Fold 8 Ultra.

Saya akan menahan diri untuk tidak membeli ponsel baru sampai baterai yang lebih besar dan lebih baik menjadi standar.

>>> Kenalan dengan 9Router, AI Gateway yang Bikin Pakai Banyak AI Jadi Jauh Lebih Praktis

Jika hanya mendapat ponsel yang sedikit lebih baik dengan harga lebih mahal, saya lebih baik bertahan dengan ponsel lama.