Kecerdasan buatan (AI) berkembang pesat dari sekadar chatbot menjadi alat analitik canggih yang digunakan di berbagai sektor.

Kemampuannya mengolah data dalam jumlah besar membantu meningkatkan prakiraan cuaca, mendeteksi kekeringan, mengoptimalkan jaringan listrik, dan mendeteksi kebocoran air.

>>> Surat Terbuka Eks Wamenkumham ke Prabowo: Desak Pemecatan Gibran Sebelum 20 Oktober 2026

Namun, harapan bahwa AI sendiri dapat menjadi solusi utama krisis iklim perlu dipertanyakan.

Janji Besar dan Pertanyaan Kritis

AI menawarkan optimasi yang presisi di berbagai bidang, dari pertanian hingga pabrik.

Efisiensi yang dihasilkan membantu perusahaan menekan biaya, menghemat bahan baku, dan mengurangi penggunaan energi.

Di permukaan, AI tampak memberikan manfaat lingkungan tanpa meminta perubahan gaya hidup yang sulit.

Namun, apakah itu cukup? Bisakah kita mengandalkan teknologi tanpa mengubah kebiasaan konsumsi?

Efek Rebound: Efisiensi Justru Meningkatkan Konsumsi

Efisiensi yang dihasilkan AI justru dapat mendorong konsumsi lebih besar.

Sosiolog Pierre Veltz menjelaskan bahwa efisiensi membuat barang dan jasa lebih murah, lebih mudah diakses, dan lebih diminati.

Fenomena ini dikenal sebagai efek rebound atau Paradoks Jevons.

Contohnya, kemajuan teknologi penerbangan dalam 40 tahun terakhir berhasil menurunkan konsumsi bahan bakar per penumpang hingga sepertiga.

Namun, harga tiket yang lebih murah justru membuat jumlah penerbangan melonjak drastis.

Dampak lingkungan secara keseluruhan justru memburuk.

>>> Penyebab AC Inverter Tidak Dingin Akibat Salah Pilih Kapasitas PK

Keuntungan lingkungan dari optimasi bisa hilang sebagian atau seluruhnya karena peningkatan konsumsi.

Ini bukan kesalahan AI, melainkan produk dari model sosial kita.

Jejak Karbon AI yang Tersembunyi

AI sering dianggap sebagai teknologi tak berwujud atau 'di awan', tetapi infrastrukturnya sangat nyata dan boros energi.