Sistitis, atau infeksi kandung kemih, adalah kondisi yang dialami setidaknya sekali seumur hidup oleh separuh wanita di dunia.

Meski frekuensinya tinggi seperti flu biasa, rasa sakit dan ketidaknyamanan yang ditimbulkan—seperti sensasi terbakar saat buang air kecil atau dorongan terus-menerus untuk ke toilet—sama sekali tidak bisa dianggap sepele.

>>> Tragedi Tabanan: Nyawa Melayang Gara-Gara Ayam Aduan, Tangis Pilu Anak SD di Depan Jenazah Ayah Bikin Merinding

Musim panas sering menjadi pemicu utama, karena cuaca hangat menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan bakteri.

Selain itu, aktivitas seksual juga kerap dikaitkan dengan munculnya infeksi ini, meskipun secara medis sistitis tidak digolongkan sebagai infeksi menular seksual (IMS).

Mengapa Wanita Lebih Rentan?

Sistitis adalah peradangan pada kandung kemih yang jauh lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pria. Penyebab utamanya adalah infeksi bakteri, terutama Escherichia coli (E.

coli), yang secara alami hidup di saluran pencernaan (usus besar dan rektum).

Infeksi dimulai ketika bakteri ini berpindah dari area perineum ke uretra, lalu naik ke kandung kemih dan berkembang biak.

Karena uretra wanita lebih pendek dan dekat dengan anus, wanita dari masa kanak-kanak hingga dewasa lebih rentan terhadap infeksi ini.

Pada pria, kasus seperti ini jarang terjadi. Sebagian besar infeksi bersifat akut, muncul tiba-tiba dan jarang kambuh.

Namun, sekitar satu dari sepuluh wanita mengalami sistitis berulang, yang didefinisikan sebagai lebih dari empat episode per tahun.

>>> Tampang Pelaku Pembunuhan Satpam Waduk Jatiluhur, Kronologi dan Fakta Terbaru Kasus Sumarna, Benarkah Masih Dibawah Umur?

Efek Bulan Madu: Sistitis dan Aktivitas Seksual

Uretra wanita yang pendek dan dekat dengan anus menjadi sasaran empuk bagi bakteri E. coli.