Pakar Ingatkan Indonesia Jangan Goyah Pertahankan Kedaulatan di Natuna
Pandangan Pakar Maritim
Kepala Pusat Kajian Maritim Sekolah Staf dan Komando TNI AL (Kapusjianmar Seskoal), Laksamana Pertama TNI Salim, menegaskan bahwa LCS bukan sekadar ancaman atau aset, tetapi keduanya sekaligus, tergantung bagaimana negara mengelolanya.
"Laut China Selatan adalah jalur perdagangan strategis dunia, sumber perikanan, cadangan energi, serta ruang penting bagi diplomasi dan ekonomi maritim Indonesia," ucapnya dalam seminar "Aset atau Ancaman?
>>> Solusi Anti Pegal Saat Macet Pakai Fitur Canggih Daihatsu Rocky Hybrid
Kompleksitas Laut China Selatan dalam Relasi Indonesia–China" yang diselenggarakan oleh Forum Sinologi Indonesia (FSI) di Jakarta.
Menurutnya, stabilitas kawasan akan memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional dan mewujudkan visi Indonesia sebagai poros maritim.
Namun, Laksma Salim juga menekankan ancaman yang perlu diwaspadai di Laut Cina Selatan, termasuk di ZEE Indonesia di perairan dekat Kepulauan Natuna.
Ancaman tersebut terkait dengan hadirnya rivalitas kekuatan besar di perairan itu, masih adanya sengketa klaim maritim, adanya aktivitas ilegal di laut, hingga potensi pelanggaran terhadap hak berdaulat Indonesia di sekitar Laut Natuna Utara.
Menurutnya, Indonesia harus mengelola ancaman dan tantangan di atas dengan strategi yang kuat, demi mempertahankan kendali atas kepentingan nasionalnya.
"Laut Cina Selatan bukan ancaman karena letaknya, melainkan dapat menjadi ancaman apabila Indonesia lemah dalam menjaga kedaulatan, menegakkan hukum laut, dan membangun kekuatan maritim.
Sebaliknya, dengan kepemimpinan yang visioner, Laut Cina Selatan adalah aset geopolitik terbesar Indonesia di abad ke-21," tambah dia.
Pendekatan Pemerintahan Baru
Sementara itu, Dr Klaus Heinrich Raditio, pemerhati Cina yang mengajar politik Tiongkok di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, mengakui bahwa pendekatan Presiden Prabowo terkait Laut Cina Selatan, tepatnya terkait ZEE Indonesia di perairan Kepulauan Natuna, berbeda dari para pendahulunya.
Hal ini menunjukkan adanya perubahan strategi dalam menghadapi klaim Cina, namun tetap harus diimbangi dengan ketegasan dalam mempertahankan kedaulatan.
Indonesia perlu terus memperkuat diplomasi maritim dan penegakan hukum di laut, serta membangun kekuatan maritim yang tangguh.
>>> Tips Memilih Warna Bedak Sesuai Warna Kulit untuk Makeup Flawless
Dengan demikian, LCS dapat menjadi aset geopolitik yang mendukung kemakmuran bangsa, bukan ancaman yang melemahkan kedaulatan.
Update Terbaru
Judika Buka Konser Trans TV Festival dengan Lagu Hits, Penonton Bernyanyi Bersama
Minggu / 26-07-2026, 21:04 WIB
Pakistan Siap Deportasi 20.000 Warga Afghanistan dari Peshawar
Minggu / 26-07-2026, 21:00 WIB
Pakistan Jadikan Pemulangan Pemerkosa Rochdale Syarat Ekstradisi Kritikus
Minggu / 26-07-2026, 21:00 WIB
Everson Griffen Ditangkap karena Tak Gunakan Alat Interlock
Minggu / 26-07-2026, 21:00 WIB
Mobil Tabrak Kerumunan Parade LGBTQ+ di Berlin, Satu Tewas
Minggu / 26-07-2026, 21:00 WIB
GROTESQQQUE: Atsushi Nishigori Bicara Tiga Dunia, Gaya Visual, dan Visi Kreatif
Minggu / 26-07-2026, 20:50 WIB
Jadwal Ibadah Salat Wilayah Makassar Bulan Juli 2026
Minggu / 26-07-2026, 20:50 WIB
Fenomena El Nino Super Ancam Ekonomi Afrika dengan Kerugian Hingga Rp358 Triliun
Minggu / 26-07-2026, 20:43 WIB
PSSI Masih Tunggu Kepastian Justin Hubner untuk Piala AFF 2026
Minggu / 26-07-2026, 20:42 WIB
Yusril Ingatkan Risiko Hukum di Balik Sayembara Penangkapan Begal Ala Gubernur Jabar
Minggu / 26-07-2026, 20:42 WIB
Mengapa Anda Tidak Bisa Menggelitik Diri Sendiri? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Minggu / 26-07-2026, 20:35 WIB
Perubahan Bicara Ini Bisa Jadi Tanda Awal Alzheimer, Waspadai
Minggu / 26-07-2026, 20:35 WIB
Bocoran Unboxing Honor Robot Phone Tampilkan Desain Kemasan dan Kamera Gimbal
Minggu / 26-07-2026, 20:35 WIB
Demi Peran Buta di The Odyssey, John Leguizamo Jalani Syuting Tanpa Melihat Selama 14 Jam
Minggu / 26-07-2026, 20:29 WIB







