Kasus mendominasi pada kelompok populasi kunci, seperti Laki-Laki yang Berhubungan Seksual dengan Laki-Laki (LSL) sebanyak 521 kasus, populasi belum teridentifikasi faktor risikonya sebanyak 210 kasus, ibu hamil sebanyak 60 kasus, pasien Tuberkulosis (TB) sebanyak 44 kasus, pasangan berisiko tinggi atau pasangan ODHIV sebanyak 80 kasus, pekerja seks dan pelanggan sebanyak 56 kasus, serta lainnya (Waria, WBP, IMS, Napza suntik, Calon pengantin) sebanyak 35 kasus.

Dari kelompok usia ini, sebanyak 572 orang masih aktif menjalani terapi ARV, 123 orang meninggal dunia, dan 311 orang berstatus LFU.

Hasil Supervisi dan Imbauan Kemenkes

Menanggapi sorotan publik terhadap kasus HIV di Sidoarjo, Ditjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes telah menerjunkan tim supervisi untuk memverifikasi data di lapangan, termasuk mendatangi Delta Crisis Center (DCC) serta berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo.

Plt.

Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, dr. Andi Saguni, MA, menekankan bahwa HIV merupakan penyakit kronis yang dapat dikendalikan apabila pasien rutin mengonsumsi pengobatan ARV.

"Kami mengajak seluruh masyarakat untuk tidak takut melakukan tes HIV apabila memiliki faktor risiko atau direkomendasikan oleh tenaga kesehatan.

Mengetahui status HIV sejak dini merupakan langkah penting untuk melindungi diri sendiri, pasangan, dan keluarga," tegas Andi.

>>> Menepi Sejenak di Tengah Jakarta hingga Kuliner Tanah Air Autentik

Kemenkes juga mengimbau publik untuk menyetop stigma dan diskriminasi terhadap Orang dengan HIV (ODHIV), karena stigma justru menjadi hambatan utama masyarakat untuk melakukan skrining dan mempertahankan pengobatan demi mencapai target Ending AIDS 2030.