Merilis game multipemain saat ini sangat berisiko. Pasar live-service dipenuhi ratusan judul yang mencoba meniru kesuksesan segelintir game mapan.

Fortnite dan Call of Duty masih mendominasi, membuat pendatang baru seperti Concord atau Highguard sulit menembus.

>>> Craig si Brute Jelek Dikanonisasi dalam Halo: Campaign Evolved

Belum lagi banyak game lawas yang tak mampu bertahan dengan biaya pengembangan yang terus naik.

Destiny 2, misalnya, menerima pembaruan terakhirnya awal tahun ini. Namun, satu genre justru berkembang selama puluhan tahun: MMORPG.

Saat game live-service berusaha mempertahankan pemain setia, pengembang MMORPG terbaik harus menemukan cara baru untuk berevolusi.

Untuk memahami perubahan ini, kami berbicara dengan pimpinan tiga MMO modern tertua: Final Fantasy 14, Elder Scrolls Online, dan Warframe.

Membangun Dunia yang Layak Dihuni

Genre MMORPG mulai menanjak pada tahun 1990-an. Banyak pengembang mencoba peruntungan di ruang multipemain masif ini, namun hanya sedikit yang mampu bertahan.

Game yang berhasil adalah yang dengan jelas menemukan ceruk pasar dan kemudian fokus melayani basis penggemar tersebut. Nick Giacomini, direktur game The Elder Scrolls Online, memahami tantangan ini.

"Genre MMORPG tidak akan hilang dalam waktu dekat. MMORPG adalah rumah bagi pemain dengan cara yang tidak dimiliki genre lain.

Namanya saja sudah masif. Skala besar memberi ruang untuk benar-benar dihuni, sementara komunitas membuatnya terasa hidup," ujar Giacomini.

Namun, ia mengakui genre ini menantang, terutama bagi game baru. "Membuat MMORPG adalah usaha monumental, dan hanya sedikit yang berhasil menembus.

Di satu sisi, bangkitnya game live-service membuatnya semakin sulit. Ada begitu banyak game luar biasa, jadi mengapa pemain harus memilih game Anda?"