Kisah-kisah tersebut mencerminkan risiko yang terus dihadapi masyarakat yang tinggal di kawasan hilir bendungan setiap musim hujan.

Lee berpendapat sistem pengelolaan bendungan di China masih memiliki kelemahan mendasar.

Ia menilai kurangnya peringatan dini, lemahnya pengawasan terhadap kualitas konstruksi, serta terbatasnya keterbukaan informasi menyebabkan berbagai persoalan terus berulang.

Lee juga menyoroti meningkatnya penggunaan telepon seluler dan media sosial yang, menurutnya, membuat dokumentasi warga mengenai kondisi di lapangan lebih mudah tersebar sehingga memberikan gambaran yang berbeda dari narasi resmi pemerintah.

Meski demikian, ia menilai perubahan tersebut belum diikuti peningkatan akuntabilitas dalam pengelolaan bendungan.

"Bendungan yang semula dibangun sebagai simbol pembangunan kini justru menjadi sumber kekhawatiran bagi sebagian masyarakat yang tinggal di wilayah hilir," ucap Lee.

>>> DPRD Gowa Rampungkan Pansus Hak Angket, Bupati Terancam Dimakzulkan?

"Tanpa peningkatan transparansi, akuntabilitas, serta perbaikan standar rekayasa dan pengelolaan infrastruktur, risiko bencana serupa akan terus membayangi kawasan-kawasan yang bergantung pada sistem bendungan di China," pungkasnya.