Otoritas setempat kemudian menaikkan status tanggap darurat banjir ke tingkat tertinggi dan mengerahkan tim penyelamat serta melakukan evakuasi warga terdampak.

Pemerintah Kota Nanning juga menyatakan sebagian besar wilayahnya mengalami hujan lebat hingga sangat lebat dalam beberapa hari sebelumnya.

Menurut Lee, tragedi tersebut bukan merupakan peristiwa yang berdiri sendiri.

Ia mengutip dokumen Biro Sumber Daya Air setempat pada 2022, yang menurutnya, menunjukkan puluhan proyek konservasi air belum menyelesaikan pemeriksaan kualitas konstruksi, termasuk proyek penguatan Waduk Liulan.

"Kondisi itu menunjukkan adanya persoalan kualitas pembangunan dan pengawasan terhadap infrastruktur air yang telah berlangsung selama bertahun-tahun," ungkap Lee.

>>> Mbappe Samai Rekor Langka Eusebio yang Bertahan 60 Tahun

Saat ini, lanjut Lee, banyak bendungan di China dibangun puluhan tahun lalu dengan standar konstruksi yang kini dipertanyakan.

Selain itu, berbagai fungsi bendungan, mulai dari pembangkit listrik, irigasi, hingga pengendalian banjir, disebut dapat menimbulkan tekanan tambahan terhadap struktur ketika curah hujan meningkat.

Ia juga mengaitkan insiden Liulan dengan tragedi Bendungan Banqiao di Provinsi Henan pada 1975 yang menjadi salah satu bencana bendungan paling mematikan dalam sejarah.

Lee menyebut pemerintah China selama bertahun-tahun telah membatasi informasi mengenai skala tragedi tersebut. Ia menilai pola serupa masih terlihat dalam penanganan berbagai insiden bendungan hingga saat ini.

Risiko Keamanan Sistem Bendungan China

Di balik data kerusakan, Lee menyoroti dampak yang dirasakan masyarakat.

Ia mengutip kesaksian warga yang menyebut banjir mencapai lantai dua rumah hanya dalam hitungan jam, membuat banyak keluarga terjebak tanpa makanan maupun pasokan dasar.

Sejumlah warga juga dilaporkan kehilangan anggota keluarga akibat derasnya arus banjir.