>>> Dude Harlino Ungkap Alasan Kembalikan Rp5,25 Miliar: Bentuk Empati kepada Korban Dana Syariah

Sapi-sapi ini mengembangkan struktur sosial kompleks seperti kawanan liar: kelompok betina dan anak, kelompok jantan dewasa dan remaja, serta kelompok campuran saat musim kawin.

Mereka menjadi lebih liar dan sulit didekati.

Studi genetik juga menunjukkan bahwa mutasi yang sudah ada pada sapi pendiri membantu populasi ini beradaptasi dengan cepat terhadap isolasi pulau.

Pemusnahan Kontroversial pada 2010

Meskipun memberikan wawasan langka tentang proses feralisasi dan adaptasi, seluruh populasi sapi ini dimusnahkan pada 2010, bertepatan dengan Tahun Internasional Keanekaragaman Hayati.

Tidak ada sampel biologis yang disimpan.

Sapi-sapi ini dianggap sebagai ancaman bagi dua spesies endemik: semak bulu Pulau Amsterdam (Phylica arborea) dan elang laut Amsterdam (Diomedea amsterdamensis).

Sejak 1988, populasi sapi telah dikurangi dari sekitar 1.000 ekor menjadi 500 ekor pada 1993 melalui pemagaran dan pemusnahan.

Namun, para peneliti menyesalkan bahwa tidak ada studi demografi, adaptasi, atau penilaian kepentingan ilmiah yang dilakukan sebelum pemusnahan.

Mereka berpendapat bahwa pengambilan sampel genetik secara sistematis seharusnya menjadi prosedur standar sebelum eliminasi populasi feral.

Ancaman yang lebih besar, seperti tikus dan kucing, baru ditangani secara serius pada 2024 melalui proyek restorasi ekosistem pulau-pulau Samudra Hindia.

>>> Guru Besar Unair: Eksepsi Dokter Tifa Skenario Politik Lindungi Jokowi

Hal ini menimbulkan pertanyaan etis: apakah pemusnahan total benar-benar diperlukan untuk restorasi ekologis?