Kementerian Luar Negeri Indonesia buka suara terkait pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Direktur Biro Investigasi Federal (FBI) Amerika Serikat Kash Patel di Jakarta, Rabu (22/7).

Pertemuan tersebut membahas repatriasi artefak Indonesia yang masuk ke Amerika Serikat secara ilegal.

>>> Pelatih Korea Soroti Evaluasi Usai Kalahkan Timnas Voli Putri Indonesia

Penjelasan Kemlu

Juru bicara Kemlu Vahd Nabyl dalam konferensi pers pada Kamis (23/7) mengatakan repatriasi artefak merupakan kerja sama lintas lembaga.

"Mengenai repatriasi artefak budaya dari Amerika Serikat ini merupakan kerja lintas kementerian dan lembaga dan perwakilan Republik Indonesia di Washington DC," kata Nabyl.

Berbagai lembaga Indonesia berkoordinasi dengan Pemerintah AS, khususnya FBI, dalam memberantas jaringan penyelundupan dan perdagangan ilegal benda budaya.

"Ini bukanlah merupakan sesuatu yang baru, artinya kerjasama untuk repatriasi artefak budaya ini adalah suatu kerjasama yang dilakukan dengan banyak negara untuk kepentingan mengembalikan kekayaan budaya dan sejarah negara-negara yang diselundupkan di berbagai negara," ungkap Nabyl.

Artefak yang Dikembalikan

Sebelumnya, Patel menyerahkan artefak budaya Indonesia kepada Prabowo sebagai bagian dari kerja sama repatriasi antara Pemerintah Indonesia dan FBI.

>>> Dude Harlino Kembalikan Honor Rp5,25 Miliar ke Bareskrim

Menteri Kebudayaan Indonesia Fadli Zon menjelaskan artefak yang dikembalikan berasal dari Papua, tepatnya warisan budaya masyarakat suku Dani, suku Asmat, dan suku Danau di kawasan Danau Sentani.

Menurut dia, benda-benda tersebut memiliki nilai sejarah dan budaya yang sangat tinggi bagi Indonesia.

"Saya kira ini merupakan benda-benda yang sangat berharga karena proses repatriasi ini merupakan upaya kita untuk memulihkan warisan budaya kita," kata Fadli Zon dalam rilis resmi pemerintah RI.

Fadli menyatakan pengembalian artefak budaya merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk memulihkan integritas budaya nasional sekaligus memberdayakan pengetahuan masyarakat terhadap warisan sejarah bangsa.

>>> 2 Bulan Kekeringan, Ratusan Keluarga di Tangerang Krisis Air Bersih

Nantinya, artefak-artefak tersebut akan dipamerkan di Museum Nasional agar bisa dinikmati dan dipelajari oleh masyarakat luas.