Tanpa disadari, orang tua juga sedang membentuk narasi tentang siapa anak itu di mata publik.

"Saat orang tua mem-posting konten anak, mereka bukan cuma membagikan momen hari ini, tetapi juga ikut menulis arsip identitas anak untuk masa depannya," kata Arnold.

Menurutnya, dampak psikologis dari sharenting bisa muncul dalam berbagai bentuk. Yang pertama adalah hilangnya kontrol atas identitas diri.

Ketika beranjak dewasa, seseorang mulai menentukan bagaimana ia ingin dikenal, namun kesempatan itu bisa berkurang ketika hampir seluruh masa kecilnya sudah lebih dulu dipublikasikan oleh orang tua.

"Kalau sejak kecil identitas digitalnya sudah 'dibuatkan' oleh orang tua, anak bisa merasa tidak punya kendali atas narasi tentang dirinya," ujarnya.

Bagi orang tua, foto anak sedang mandi atau menangis mungkin tampak menggemaskan. Bagi remaja berusia 15 tahun, foto yang sama bisa terasa sangat memalukan.

Arnold mengatakan, banyak unggahan yang awalnya dianggap lucu justru berpotensi memicu rasa malu, marah, bahkan konflik antara anak dan orang tua ketika mereka tumbuh dewasa.

Yang sering kali luput dipikirkan adalah, rasa malu itu tidak berhenti pada hubungan anak dan orang tua. Di lingkungan sekolah, jejak digital juga bisa menjadi bahan ejekan.

Cerita tentang nilai pelajaran, kebiasaan masa kecil, kondisi kesehatan, atau video-video yang dianggap lucu dapat berubah menjadi amunisi untuk melakukan cyberbullying.

"Jejak digital bisa digunakan teman untuk mengejek, menjadi bahan cyberbullying, atau membentuk persepsi tertentu tentang anak," ujar Arnold.

Padahal, pada masa remaja, penerimaan dari teman sebaya merupakan salah satu aspek yang sangat memengaruhi perkembangan harga diri seseorang.

Di tengah meningkatnya kesadaran tentang perlindungan data pribadi, muncul istilah digital consent, yaitu hak anak untuk menentukan apakah foto, video, maupun cerita tentang dirinya boleh dibagikan ke internet.