Yang paling menjadi perhatian Riska adalah soal consent.

"Anak kami belum punya pengetahuan dan kemampuan untuk memberikan izin apakah foto atau videonya boleh dibagikan ke publik," katanya.

Dampak Psikologis dan Jejak Digital yang Tak Hilang

Psikolog Arnold Lukito mengatakan, sharenting sebenarnya bukan fenomena yang sepenuhnya salah. Banyak orang tua melakukannya karena rasa sayang, bangga, ingin mendokumentasikan perkembangan anak, atau ingin berbagi kebahagiaan.

Namun, persoalan muncul ketika tujuan itu mulai bergeser, misalnya ketika anak bergeser dari subjek yang sedang bertumbuh menjadi 'konten'.

Di sini boundaries atau batasan memang sangat penting diterapkan.

Yang mengkhawatirkan, anak-anak masa kini tumbuh di dunia yang sangat berbeda dengan generasi orang tuanya.

Jika dulu masa kecil perlahan memudar bersama waktu, kini internet membuat hampir semua jejak itu tetap hidup.

>>> Rupiah Lanjut Koreksi ke Level Rp17.936 per Dolar AS Sore Ini

"Masa kecil yang terlalu sering ditampilkan bisa membuat anak terbiasa melihat dirinya dari sudut pandang penonton. Dalam jangka panjang, ini bisa memengaruhi self-image anak.

'Siapa aku' bisa bergeser menjadi 'Aku terlihat seperti apa di mata orang lain?' ," jelas Arnold.

Sekali sebuah foto atau video diunggah ke ruang digital, jejaknya bisa bertahan jauh lebih lama dibanding ingatan manusia.

Ia bisa diunduh, disimpan, dibagikan ulang, bahkan muncul kembali bertahun-tahun kemudian, ketika si anak sudah tumbuh menjadi remaja atau orang dewasa.

Anak-anak yang lahir hari ini adalah generasi pertama yang sebagian besar perjalanan hidupnya sudah terdokumentasi bahkan sebelum mereka bisa membaca, menulis, atau memahami apa itu media sosial.

Arnold mengatakan, jejak digital yang dibangun orang tua sejak anak lahir bukan sekadar kumpulan foto.